Halo Jakarta – Bitcoin resmi memasuki zona kapitulasi setelah harga terus tertekan dan menyentuh level terendah baru dalam beberapa bulan terakhir. Pada 10 Februari 2026, BTC sempat jatuh ke kisaran USD 58.000–59.000 sebelum rebound tipis ke USD 60.500. Penurunan ini memicu lonjakan likuidasi massal dan menandakan banyak holder mulai menyerah. Analis on-chain menyebut ini sebagai sinyal klasik kapitulasi – tahap di mana pasar sering mencapai bottom sebelum rebound kuat. Berikut penjelasan lengkap zona kapitulasi, indikator yang muncul, dampak ke altcoin & investor Indonesia, serta strategi bertahan di tengah tekanan ekstrem ini.
Apa Itu Zona Kapitulasi & Mengapa BTC Sudah Masuk?
Kapitulasi terjadi saat mayoritas investor ritel menyerah dan menjual di harga rendah, biasanya ditandai oleh:
- Lonjakan volume likuidasi leverage (sudah > USD 900 juta dalam 24 jam terakhir)
- Indeks Fear & Greed Crypto jatuh ke zona 20–25 (Extreme Fear)
- HODL waves jangka pendek (<3 bulan) menurun tajam
- Whale mulai akumulasi diam-diam sementara ritel panic sell
Data Glassnode & CryptoQuant menunjukkan pola ini sudah terlihat jelas pada BTC sejak akhir Januari 2026. Ini adalah fase yang sama seperti kapitulasi Maret 2020, Juni 2022, dan November 2022 – sering jadi bottom siklus.
Kronologi Penurunan & Indikator Kapitulasi yang Muncul
Pergerakan harga BTC dalam 2 minggu terakhir:
- Puncak lokal akhir Januari: ~USD 72.000–74.000
- Koreksi bertahap ke USD 65.000, lalu jebol support USD 62.000
- 8–10 Februari: jatuh ke low USD 58.200 (terendah sejak Desember 2025)
- Rebound tipis ke USD 60.500–61.000 (data 14.00 WIB)
Indikator kapitulasi yang sudah terpicu:
- MVRV Z-Score turun di bawah 0 (undervalued ekstrem)
- Puell Multiple mendekati level 0,4 (miner mulai capitulasi)
- CVD (Cumulative Volume Delta) menunjukkan penjualan panik ritel
Dampak ke Altcoin & Pasar Indonesia
Altcoin terpukul lebih keras:
- Ethereum turun ke USD 3.300–3.400
- Solana anjlok ke USD 140–145
- XRP, Cardano, Avalanche koreksi 15–25%
- Memecoin seperti DOGE & PEPE terjun hingga 40–50%
Di Indonesia, volume trading di exchange lokal melonjak karena panic selling sekaligus bargain hunting. Banyak investor muda yang masuk di puncak akhir 2025 kini terjebak posisi rugi besar, tapi sebagian tetap hold karena percaya ini fase kapitulasi klasik.
Analisis Pengamat & Prediksi Jangka Pendek
Analis CryptoQuant: “Kapitulasi ritel sudah terpicu. Support kuat ada di USD 55.000–58.000. Jika bertahan, rebound ke USD 80.000–90.000 sangat mungkin dalam 4–8 minggu.”
Mike McGlone (Bloomberg): “Investor ETF tetap tenang. Ini menandakan pasar mulai matang—kapitulasi ritel sering jadi bottom sebelum rally besar.”
CoinBureau: “Jangan overreact. Koreksi 50%+ dari puncak adalah hal normal dalam siklus bull. Fokus pada fundamental: halving effect & adopsi institusi masih sangat kuat.”
Strategi Investor Saat Masuk Zona Kapitulasi
Investor bisa ambil langkah bijak:
- Gunakan Dollar Cost Averaging (DCA) — beli bertahap di zona USD 55.000–65.000
- Hindari panic sell — kapitulasi sering jadi bottom lokal
- Pindah sebagian ke stablecoin — kurangi eksposur volatilitas jangka pendek
- Pantau inflow ETF & akumulasi whale — sinyal rebound biasanya muncul di sini
- Hold BTC & ETH jangka panjang — fundamental tetap sangat kuat
Koreksi ini sering jadi kesempatan terbaik bagi investor sabar.
Kesimpulan: Bitcoin di Zona Kapitulasi – Akhir Bear atau Mulai Rally Baru?
Penurunan 50% dari puncak Oktober 2025 dan masuknya BTC ke zona kapitulasi memicu kepanikan, tapi sejarah menunjukkan fase ini sering jadi bottom sebelum rally besar. Investor disarankan tetap tenang, hindari FUD, dan gunakan momentum ini untuk akumulasi aset berkualitas.
Bitcoin masuk zona kapitulasi – harga berpotensi anjlok lebih dalam atau ini bottom baru?
