Halo Jakarta – Harga Bitcoin kembali mengalami koreksi brutal dan telah turun sekitar 50% dari puncak tertingginya di Oktober 2025. Pada 7 Februari 2026, BTC sempat menyentuh level USD 54.000–55.000 sebelum rebound tipis ke kisaran USD 57.000–58.000. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terdalam sejak bull run dimulai pasca-halving 2024, memicu likuidasi massal dan kepanikan di kalangan trader ritel. Berikut kronologi penurunan, faktor utama penyebabnya, dampak ke altcoin & investor Indonesia, serta pandangan analis tentang apakah ini akhir bull run atau hanya koreksi sehat yang akan jadi peluang akumulasi.
Kronologi Penurunan 50% dari Puncak Oktober 2025
Pergerakan harga Bitcoin sejak puncak:
- Oktober 2025: BTC mencapai all-time high sekitar USD 110.000–112.000
- November–Desember 2025: mulai koreksi bertahap ke USD 90.000–95.000
- Januari 2026: tekanan jual semakin kuat, sempat turun ke USD 85.000
- Awal Februari 2026: jebol level USD 60.000 dan sentuh low USD 54.000 (penurunan ~50% dari puncak)
- Likuidasi total dalam seminggu terakhir mencapai USD 1,2 miliar (CoinGlass)
Ini menjadi koreksi terdalam sejak bear market 2022, meskipun pasar masih dalam siklus bull secara keseluruhan.
Faktor Utama Penyebab Koreksi Tajam Ini
Beberapa pemicu utama yang memukul harga Bitcoin:
- The Fed Tetap Hawkish — Jerome Powell menegaskan inflasi masih “sticky”, hanya ada ruang untuk 1–2 kali potong suku bunga di 2026
- Penguatan Dolar AS — Indeks DXY melonjak ke 107,5—level tertinggi dalam 5 bulan—membuat aset berisiko semakin tertekan
- Profit Taking Institusi — ETF Bitcoin spot AS catat outflow besar USD 1,1 miliar dalam 10 hari terakhir
- Sentimen Geopolitik — Ketegangan AS-Iran dan ancaman tarif Trump terhadap China memicu risk-off global
- Over-leverage & Panic Selling Ritel — Banyak trader ritel over-leverage terkena margin call beruntun
Indeks Fear & Greed Crypto jatuh ke zona 28 (Extreme Fear) – level terendah sejak akhir 2025.
Dampak ke Altcoin & Pasar Kripto Indonesia
Altcoin terpukul lebih keras:
- Ethereum turun ke USD 3.500–3.600
- Solana anjlok ke USD 150–155
- Memecoin seperti DOGE & PEPE koreksi hingga 40–60%
Di Indonesia, volume trading di exchange lokal melonjak drastis karena panic selling sekaligus bargain hunting. Banyak investor muda yang masuk di puncak Oktober 2025 kini terjebak posisi rugi besar, tapi sebagian tetap hold karena percaya ini hanya koreksi sementara.
Analisis Pengamat & Prediksi Jangka Pendek
Analis Bloomberg Mike McGlone: “Investor institusi tetap tenang. ETF outflow tidak separah yang dibayangkan. Support kuat ada di USD 58.000–60.000. Jika bertahan, rebound ke USD 80.000–90.000 sangat mungkin dalam 4–8 minggu.”
CryptoQuant: “Akumulasi whale masih berlanjut di zona ini. Ini lebih terlihat sebagai shakeout over-leveraged daripada akhir bull run.”
CoinBureau: “Koreksi 50% dari puncak adalah hal normal dalam siklus bull. Fokus pada fundamental: adopsi ETF, layer-2, dan halving effect masih kuat.”
Strategi Investor di Tengah Koreksi Besar Ini
Investor bisa ambil langkah bijak:
- Dollar Cost Averaging (DCA) — Beli bertahap di zona USD 58.000–65.000
- Hindari FOMO/FUD — Jangan panic sell hanya karena harga turun 50%
- Pindah sebagian ke stablecoin — Kurangi eksposur volatilitas jangka pendek
- Pantau inflow ETF — Jika inflow kembali positif, rebound biasanya cepat
- Hold BTC & ETH — Fundamental layer-1 tetap kuat meski harga turun
Koreksi ini sering jadi kesempatan akumulasi bagi yang sabar.
Bitcoin Turun 50% dari Puncak – Koreksi Sehat atau Awal Bear?
Penurunan Bitcoin ke level terendah sejak kemenangan Trump memicu kepanikan, tapi analis melihat ini sebagai koreksi sehat dalam bull cycle panjang. Investor disarankan tetap fokus pada fundamental dan tidak terbawa emosi.
Bitcoin jatuh 50% dari puncak Oktober 2025—koreksi biasa atau akhir bull run?
