Halo Jakarta – Serangan gabungan Israel-AS ke Iran pada 28 Februari 2026 memicu ledakan di Tehran, Isfahan, dan 24 provinsi lain – termasuk kematian Ayatollah Ali Khamenei. Dunia menunggu reaksi keras dari sekutu utama Iran: Rusia dan China. Tapi yang terjadi justru sebaliknya – kedua negara memilih diam seribu bahasa. Tidak ada bantuan militer langsung, tidak ada ancaman balasan, bahkan pernyataan resmi pun terbatas pada “kecaman ringan”.
Mengapa Rusia dan China – dua kekuatan yang selama ini jadi “tameng” Iran – tiba-tiba tak bergerak? Jawabannya bukan karena takut, melainkan kepentingan strategis dingin yang sangat masuk akal. Mari kita kupas satu per satu alasan utama di balik sikap “cuek” kedua negara ini.
1. Rusia: Prioritas Utama Tetap Ukraina & Sanksi Barat
Rusia sedang terkuras habis-habisan di front Ukraina. Perang yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun menghabiskan sumber daya militer, ekonomi, dan diplomatiknya. Membantu Iran secara langsung berarti:
- Membuka front baru melawan AS & NATO – sesuatu yang saat ini tidak sanggup dilakukan Rusia.
- Memicu sanksi Barat yang lebih berat lagi, termasuk embargo total minyak & gas.
- Mengalihkan senjata & amunisi yang sebenarnya sangat dibutuhkan di Donbas dan Kharkiv.
Oleh karena itu, Kremlin memilih sikap hati-hati. Mereka hanya mengutuk serangan melalui Kementerian Luar Negeri, tapi tidak ada janji bantuan militer konkret.
2. China: Kepentingan Ekonomi & Stabilitas Lebih Penting dari Solidaritas Ideologis
China adalah mitra dagang terbesar Iran. Namun, Beijing sangat bergantung pada stabilitas global untuk ekonomi ekspornya. Membantu Iran secara militer berarti:
- Langsung berhadapan dengan AS – risiko perang dagang baru atau blokade Selat Malaka.
- Gangguan pasokan minyak dari Teluk Persia – China impor 40% minyaknya dari kawasan itu.
- Kerusakan citra “China sebagai penjaga perdamaian” di mata negara-negara Global South.
China lebih memilih jalur diplomasi daripada konfrontasi langsung. Pernyataan resmi mereka hanya menyerukan “restraint” dan “dialog”, tanpa ancaman atau dukungan militer.
3. Risiko Perang Nuklir & Kalkulasi Dingin Kedua Negara
Baik Rusia maupun China paham betul: membantu Iran secara militer bisa memicu perang nuklir regional. AS sudah menempatkan aset nuklirnya di Eropa dan Pasifik. Israel juga punya arsenal nuklir tak resmi. Jika Rusia atau China terlibat langsung, risiko eskalasi menjadi sangat tinggi.
Keduanya lebih memilih menjaga jarak:
- Rusia fokus bertahan di Ukraina.
- China fokus menjaga pertumbuhan ekonomi dan reunifikasi Taiwan.
Dengan demikian, Iran dibiarkan “sendiri” menghadapi AS & Israel – meskipun secara retoris kedua negara tetap mendukung Teheran.
Dampak bagi Indonesia & Dunia
Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan importir minyak neto terkena imbas langsung:
- Harga minyak dunia melonjak tajam → inflasi BBM & barang impor naik.
- Ketegangan geopolitik bisa ganggu investasi dari Timur Tengah.
- Prabowo menawarkan mediasi ke Teheran – peluang besar bagi Indonesia tampil sebagai penyeimbang global.
Pertanyaan besar: apakah sikap diam Rusia & China justru mempercepat kehancuran rezim Iran? Atau ini strategi cerdas untuk menghindari perang dunia ketiga? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar – isu ini menyangkut harga BBM, stabilitas ekonomi, dan masa depan perdamaian dunia.




