Halo Jakarta – Hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak Sabtu malam (21/2) hingga subuh telah mengubah enam desa di Kecamatan Tambora dan Sanggar menjadi lautan lumpur dan air bah.
Enam desa terdampak parah: Desa Labuan Kananga dan Kawinda Na’e di Tambora menjadi sorotan utama, sementara desa-desa lain di Sanggar ikut terendam. Ratusan rumah warga kini terendam air setinggi lutut hingga dada, akses jalan provinsi lumpuh total, dan fasilitas umum seperti sekolah, masjid, kantor desa, serta pasar jadi korban genangan.
Ini bukan banjir biasa – ini banjir bandang yang menggerus tanah bahu jalan hingga ruas jalan raya berubah menjadi aliran sungai ganas!
Penyebab & Kronologi: Hujan Dua Hari Nonstop Picu Bencana
Hujan intensitas tinggi berlangsung dua hari berturut-turut, memicu luapan air dari sungai dan drainase yang tak mampu menampung debit air ekstrem. Kecamatan Tambora, banjir paling parah melanda sekitar pukul 05.55 WITA – air bercampur lumpur menggenangi rumah-rumah dengan ketinggian bervariasi.
Di Desa Labuan Kananga, akses jalan raya provinsi tergenang parah hingga lalu lintas lumpuh total. Di Desa Kawinda Na’e, tanah terkikis habis – jalan berubah jadi sungai deras yang membawa puing dan lumpur.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, mengonfirmasi skala bencana.
“Hujan dua hari berturut-turut, enam desa di Kecamatan Tambora dan Sanggar terendam banjir.”
“Akses jalan raya provinsi di Desa Labuan Kananga juga tergenang air bercampur lumpur hingga menghambat arus lalu lintas.”
Dampaknya sungguh mengerikan: 140 rumah di Kecamatan Tambora dan 20 rumah di Desa Kawinda Na’e terendam. SDN 1 dan SDN 2 Labuan Kananga, Masjid At-Taqwa, kantor desa, serta Pasar Labuan Kananga ikut terendam – aktivitas warga lumpuh total.
Dampak yang Menyayat Hati: Ratusan Jiwa Terdampak, Infrastruktur Hancur
Ratusan keluarga kini kehilangan tempat tinggal sementara atau terjebak di rumah dengan air menggenang. Anak-anak tak bisa ke sekolah, pedagang pasar tak bisa berjualan, dan warga kesulitan akses makanan serta air bersih.
Jalan provinsi yang jadi jalur utama antar desa kini tak bisa dilewati kendaraan – hanya motor dan pejalan kaki yang berjuang melintasi genangan lumpur setinggi pinggang. Ini bukan hanya soal material rusak, tapi juga ancaman kesehatan: air kotor berpotensi picu penyakit pasca-banjir.
Belum ada laporan korban jiwa, tapi situasi darurat ini memerlukan respons cepat sebelum hujan kembali turun.
Respons BPBD & Pemerintah: Tim Turun Lapangan, Bantuan Segera Mengalir
BPBD Kabupaten Bima langsung bergerak: tim evakuasi dan assessment dikerahkan sejak pagi. Data kerusakan terus dikumpul untuk koordinasi bantuan dengan provinsi NTB dan pusat.
Warga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, longsor lereng Gunung Tambora, dan genangan lanjutan. Pemerintah daerah diimbau siapkan posko darurat, logistik makanan, obat-obatan, dan tempat pengungsian sementara.
Situasi ini jadi pengingat keras: musim hujan ekstrem di NTB semakin tak terduga akibat perubahan iklim. Lereng Gunung Tambora yang rawan longsor dan banjir bandang butuh mitigasi lebih serius – drainase lebih baik, reboisasi, dan sistem peringatan dini yang andal.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?
Bencana ini bukan urusan warga Bima saja – ini panggilan untuk solidaritas nasional. Donasi melalui lembaga resmi, relawan, atau bantuan logistik sangat dibutuhkan. Warga NTB sedang berjuang melawan air bah – mari kita bantu mereka bangkit kembali!
Apakah kamu punya keluarga atau kenalan di Bima? Bagaimana menurutmu pemerintah harus tingkatkan mitigasi banjir di daerah rawan seperti ini? Share cerita atau dukunganmu di kolom komentar – setiap suara berarti!
