Halo Jakarta – Tim DVI Polri menerima 16 kantong jenazah korban longsor di Cisarua, Bogor, pada 24 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, 7 jenazah sudah berhasil teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA, sidik jari, dan gigi. Proses identifikasi dan evakuasi korban lainnya masih berlangsung di lokasi longsor yang sangat sulit dijangkau. Berikut kronologi penemuan, proses identifikasi di DVI, kondisi terkini pencarian, serta respons pemerintah dan keluarga korban.
Kronologi Longsor & Penemuan 16 Kantong Jenazah
Longsor besar terjadi di Kampung Cisarua, Desa Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, pada 21 Januari 2026 dini hari akibat hujan lebat berkepanjangan. Tanah longsor menimpa 12 rumah warga dan menyebabkan puluhan orang tertimbun. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan langsung dikerahkan sejak pagi hari.
Hingga 24 Januari 2026, tim SAR berhasil menemukan 16 kantong jenazah yang kemudian dievakuasi ke Posko DVI di RS Bhayangkara Bogor. Proses evakuasi sangat sulit karena lokasi longsor berada di lereng curam dan rawan longsor susulan. Hingga saat ini, masih ada 5 warga yang dinyatakan hilang dan pencarian terus dilakukan.
Proses Identifikasi di Laboratorium DVI Polri
Ketua DVI Polri Kombes Pol. Agus Mulyono menyatakan bahwa dari 16 kantong jenazah yang diterima:
- 7 jenazah sudah teridentifikasi secara pasti melalui metode DNA, sidik jari, dan gigi
- Identitas korban yang sudah teridentifikasi langsung diserahkan kepada keluarga untuk proses pemakaman
- 9 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi lanjutan
Proses identifikasi diperkirakan memakan waktu 3–7 hari tergantung kondisi jenazah. Keluarga korban diminta menyerahkan data pendukung seperti foto, rekam medis, dan sidik jari untuk mempercepat proses.
Respons Pemerintah, Basarnas, dan Keluarga Korban
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka cita mendalam dan memerintahkan percepatan evakuasi serta bantuan kepada keluarga korban. Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau langsung lokasi longsor dan menyerahkan bantuan awal kepada keluarga korban.
Kepala Basarnas Marsdya Henri Alfiandi menyatakan bahwa tim SAR akan terus bekerja hingga semua korban ditemukan. “Medan sangat sulit, tapi kami tidak akan menyerah. Prioritas utama adalah evakuasi korban dan identifikasi,” kata Henri.
Keluarga korban yang berkumpul di posko menangis haru saat mendengar kabar 7 jenazah sudah teridentifikasi. Mereka berharap proses evakuasi korban lainnya segera dilakukan.
Dampak Longsor ke Masyarakat & Infrastruktur Cisarua
Longsor ini menyebabkan 12 rumah rusak berat dan 5 rumah hanyut. Akses jalan utama ke Kampung Cisarua sempat terputus selama 2 hari sebelum akhirnya dibuka kembali. BPBD Kabupaten Bogor menyatakan bahwa longsor ini masuk kategori longsor besar akibat curah hujan ekstrem dan kondisi tanah yang labil.
Pemkab Bogor berencana relokasi warga ke tempat yang lebih aman dan memperkuat tebing di sekitar pemukiman rawan longsor.
Pelajaran dan Harapan dari Tragedi Ini
Tragedi longsor di Cisarua jadi pengingat bahwa mitigasi bencana alam harus jadi prioritas utama di daerah rawan longsor. Pemerintah diharapkan tingkatkan pemetaan wilayah rawan, sistem peringatan dini, dan relokasi warga ke lokasi aman.
Penemuan 16 kantong jenazah dan identifikasi 7 korban jadi titik terang di tengah duka mendalam. Tim SAR dan DVI Polri terus bekerja keras untuk evakuasi korban dan identifikasi agar keluarga bisa segera memakamkan anggota keluarga mereka.
Doa terbaik untuk korban longsor Cisarua dan keluarga yang ditinggalkan. Semoga proses evakuasi dan identifikasi berjalan lancar.
