Halo Jakarta – Akhir pekan Premier League penuh debat sengit soal VAR. Beberapa penalti diberi, dibatalkan, atau diabaikan. Penggemar ramai tanya soal konsistensi.
VAR bukan alat seragamkan keputusan. Ia nilai setiap insiden secara individual. Konteks, dampak kontak, dan niat pemain jadi penentu utama. Ini bikin dua situasi mirip bisa hasilkan putusan berbeda.
Insiden Doku vs Mamardashvili: Kontak Kecil yang Berakibat Penalti
Laga Man City lawan Liverpool di Etihad jadi sorotan utama. Skor akhir 3-0 untuk tuan rumah. Pada menit ke-9, Jeremy Doku jatuh di kotak penalti setelah kontak dengan kiper Giorgi Mamardashvili.
Wasit Chris Kavanagh awalnya abaikan. Tapi VAR tinjau ulang. Keputusan berubah jadi penalti. Kontak kecil itu ganggu keseimbangan Doku secara alami. Ia coba tetap berdiri dan tembak, bukan cari pelanggaran.
Konsep “Contact with Consequence”
VAR pakai prinsip ini. Mereka cek apakah kontak benar-benar picu hilangnya kontrol. Doku tak teatrikal. Ia kehilangan bola karena kiper. Penalti pantas diberi meski kontak minim.
Kasus Ouattara vs Dan Burn: Diving yang Berujung Kartu Kuning
Di laga Newcastle vs Brentford, Dan Burn tabrak Dango Ouattara di kotak penalti. Wasit tak beri penalti. Ouattara malah dapat kartu kuning karena diving. VAR tak ubah keputusan.
Ouattara jatuh berlebihan. Ia cari penalti, bukan karena kehilangan keseimbangan alami. Panduan Premier League tegas: VAR hanya intervensi jika kontak cukup signifikan dan alami.
Perbandingan dengan Kasus Arsenal-Leeds
Panel KMI pernah nilai insiden serupa. Kontak kecil terjadi, tapi tak cukup untuk penalti. VAR tak campur tangan. Keputusan wasit tetap meski ada yang anggap salah.
Aturan VAR soal Kartu Kuning: Bukan Semua Bisa Ditinjau
Banyak fans salah paham. VAR bisa tinjau kartu kuning dalam kasus tertentu. Contoh: Brighton vs Crystal Palace. Georginio Rutter dapat kuning karena simulasi.
VAR lihat tayangan ulang. Tak ada kontak sama sekali. Penalti dibatalkan, tapi kuning tetap karena niat tipu wasit terbukti. VAR tak ubah simulasi jadi penalti.
Perubahan Musim Depan
Mulai musim 2026/2027, VAR boleh tinjau kartu kuning kedua. Kuning karena diving bisa dicabut jika terbukti salah. Tapi tak berlaku untuk kuning pertama. Jika penalti dibatalkan, kuning otomatis hilang.
Fungsi Sebenarnya VAR: Koreksi Kesalahan Jelas, Bukan Konsistensi
VAR bukan ciptakan aturan seragam. Ia fokus pada “clear and obvious error”. Wasit di lapangan punya interpretasi utama. VAR hanya koreksi jika jelas salah.
Dua insiden mirip bisa beda hasil. Konteks, sudut pandang, dan niat pemain jadi penentu. Ini bikin penggemar frustrasi, tapi sesuai protokol resmi.
Elemen Penilaian Utama VAR
- Dampak kontak pada keseimbangan
- Niat pemain (cari penalti atau alami)
- Keputusan awal wasit
- Bukti tayangan ulang yang jelas
Semua harus selaras agar VAR turun tangan.
Dampak Jangka Panjang: Debat yang Tak Pernah Selesai
VAR terus picu pro-kontra sejak diperkenalkan. Musim ini, teknologi semi-otomatis offside mulai dipakai. Tapi penalti tetap manual. Ini buka ruang interpretasi.
Premier League janji tingkatkan komunikasi. Wasit akan jelaskan keputusan VAR via mikrofon mulai musim depan. Fans harap transparansi kurangi kebingungan.
Harapan Penggemar dan Klub
Klub minta panduan lebih ketat. Fans ingin konsistensi visual. Tapi IFAB tegas: sepak bola tetap olahraga manusiawi, bukan robotik.
Kesimpulan: VAR Bantu, Tapi Tak Sempurna
VAR perbaiki kesalahan besar. Tapi ia tak hapus subjektivitas sepak bola. Doku dapat penalti, Ouattara tidak—keduanya benar menurut aturan.
Penggemar harus pahami konteks. Wasit dan VAR kerja sama, bukan gantikan satu sama lain. Drama tetap jadi bumbu Premier League.
