Halo Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melanjutkan lawatan kenegaraannya ke Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan ini berlangsung setelah pertemuan sukses dengan Raja Yordania Abdullah II. Pada 25 Februari 2026, Prabowo tiba di Abu Dhabi dan langsung bertemu Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) di Istana Al Bahr.
Pertemuan ini berlangsung hangat dan produktif. Kedua pemimpin membahas berbagai isu strategis. Mereka sepakat memperkuat kemitraan di banyak bidang. Dengan demikian, Indonesia dan UEA semakin dekat sebagai mitra jangka panjang.
Fokus Utama Pertemuan Prabowo dan MBZ
Kedua pemimpin membahas beberapa agenda penting. Pertama, mereka menyoroti investasi. UEA berencana meningkatkan investasi di Indonesia. Fokusnya meliputi infrastruktur, energi terbarukan, pariwisata, dan industri halal. Selain itu, dana sovereign wealth fund UEA seperti ADQ dan Mubadala siap ekspansi lebih besar.
Kedua, kedua negara sepakat mempercepat kerjasama energi terbarukan. Mereka membahas proyek hidrogen hijau, solar PV, dan carbon capture. Langkah ini sejalan dengan target net-zero Indonesia dan visi UEA sebagai pusat energi bersih global.
Ketiga, pertahanan menjadi topik krusial. Prabowo dan MBZ mendiskusikan kerjasama alutsista, pelatihan militer, serta intelijen bersama. UEA sudah menjadi pemasok senjata utama Indonesia. Oleh karena itu, pertemuan ini membuka peluang kontrak baru yang lebih besar.
Akhirnya, kedua pemimpin kembali menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara untuk Palestina. Prabowo menekankan komitmen Indonesia yang konsisten. MBZ mengapresiasi sikap tersebut dan menyatakan UEA siap mendukung inisiatif perdamaian melalui PBB.
“Indonesia dan UEA memiliki visi yang sama untuk masa depan yang lebih baik bagi kawasan dan dunia. Kami berkomitmen memperkuat kemitraan strategis di semua bidang,” ujar Presiden Prabowo dalam pernyataan bersama.
Sheikh Mohamed bin Zayed menambahkan:
“Kunjungan ini memperkuat ikatan persahabatan yang sudah terjalin lama. UEA siap menjadi mitra utama Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan dan stabilitas regional.”
Mengapa Kunjungan Ini Sangat Strategis?
Kunjungan Prabowo ke UEA datang pada waktu yang tepat. UEA merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Mereka sudah menanamkan miliaran dolar melalui Mubadala dan ADQ di sektor energi, logistik, dan fintech. Selain itu, Indonesia membutuhkan mitra kuat di Timur Tengah untuk diversifikasi ekonomi pasca-komoditas.
UEA juga melihat Indonesia sebagai pasar besar dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Potensi halal economy dan pariwisata sangat menjanjikan bagi kedua negara. Dengan demikian, pertemuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan antara ASEAN dan Timur Tengah.
Kunjungan ini juga melanjutkan kesuksesan sebelumnya di Yordania. Di sana, Raja Abdullah II mengapresiasi komitmen Prabowo terhadap solusi dua negara. Kini, dukungan dari Yordania dan UEA semakin memperkuat suara Indonesia di kawasan.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang
Kunjungan ini berpotensi menghasilkan beberapa capaian konkret. Pertama, kedua negara dapat menandatangani MoU baru di bidang energi hijau dan pertahanan. Kedua, investasi UEA ke IKN Nusantara dan proyek strategis nasional kemungkinan akan meningkat. Ketiga, kerjasama di forum OKI dan G20 untuk dorong perdamaian Palestina akan semakin erat.
Bagi UEA, Indonesia adalah mitra penting untuk ekspansi ekonomi pasca-minyak. Bagi Indonesia, UEA menyediakan sumber investasi dan teknologi yang sangat dibutuhkan. Dengan demikian, kunjungan ini menjadi tonggak penting diplomasi ekonomi era Prabowo.
Kunjungan Prabowo ke UEA bukan akhir dari lawatan. Namun, ini menjadi awal babak baru kemitraan strategis Indonesia-Timur Tengah. Apakah kerjasama ini akan membawa hasil besar bagi kedua negara? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar. Isu ini menyangkut masa depan ekonomi dan posisi Indonesia di panggung dunia.
