Pemprov DKI Imbau ASN & Pekerja Swasta WFH! Cuaca Ekstrem Bikin Jakarta Darurat

Cuaca Ekstrem Bikin Jakarta Darurat

Halo Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengimbau Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pekerja swasta untuk bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) mulai 23 Januari 2026. Imbauan ini dikeluarkan menyusul cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Jakarta dan sekitarnya sejak 22 Januari malam. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan langkah ini untuk mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas, genangan air di jalan, dan meminimalkan potensi korban jiwa akibat cuaca buruk. Apa detail imbauan, alasan utama, sektor yang dikecualikan, serta dampak ke mobilitas warga? Berikut ulasan lengkap.

Cuaca Ekstrem Melanda Jakarta: Hujan Lebat & Angin Kencang

BMKG memprediksi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang akan berlangsung hingga 25 Januari 2026. Curah hujan di beberapa wilayah Jakarta mencapai 150–200 mm dalam 24 jam—mengakibatkan genangan air di puluhan ruas jalan utama seperti Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto. Angin kencang hingga 40–50 km/jam juga menyebabkan pohon tumbang dan baliho roboh di beberapa titik.

Bacaan Lainnya

Gubernur Pramono Anung langsung rapat koordinasi dengan BMKG, BPBD, dan Dishub DKI pada pagi 23 Januari. Hasilnya: imbauan WFH bagi ASN dan pekerja swasta untuk tiga hari ke depan (23–25 Januari 2026).

Detail Imbauan WFH dari Pemprov DKI

Imbauan resmi Pemprov DKI:

  • ASN — Seluruh ASN di lingkungan Pemprov DKI diimbau WFH, kecuali petugas yang bertugas di lapangan seperti petugas kebersihan, damkar, dan medis
  • Pekerja Swasta — Pemprov imbau perusahaan swasta terapkan WFH bagi karyawan yang pekerjaannya memungkinkan dilakukan dari rumah
  • Sektor Pengecualian — Layanan kesehatan, keamanan, transportasi publik, logistik, dan kebutuhan pokok tetap beroperasi normal
  • Sekolah & Kampus — Pembelajaran daring untuk sekolah dan perguruan tinggi selama periode cuaca ekstrem

Gubernur Pramono menekankan, “Ini bukan perintah wajib, tapi imbauan kuat demi keselamatan bersama. Kami ingin kurangi risiko kecelakaan dan genangan di jalan.”

Alasan Utama Imbauan WFH: Keselamatan & Mengurangi Kemacetan

Beberapa alasan utama di balik imbauan ini:

  • Risiko Kecelakaan Tinggi — Hujan lebat + angin kencang sering sebabkan pohon tumbang, baliho roboh, dan genangan air yang bahayakan pengendara
  • Kemacetan Parah — Genangan di jalan utama bikin lalu lintas macet hingga 4–5 jam di beberapa titik
  • Mengurangi Beban Transportasi Publik — TransJakarta, MRT, dan LRT bisa fokus layani yang benar-benar butuh
  • Lindungi Kesehatan Masyarakat — Hindari penyakit akibat terpapar hujan lama dan genangan kotor

Dishub DKI catat kemacetan turun hingga 35% di jam sibuk pagi setelah imbauan WFH dikeluarkan.

Respons Masyarakat & Perusahaan Swasta

Respons masyarakat beragam. Banyak ASN dan pekerja swasta senang karena bisa WFH dan hindari macet. Tagar #WFHBanjir dan #JakartaDarurat trending di X dengan ribuan tweet dukungan.

Beberapa perusahaan swasta langsung respons positif: Tokopedia, Gojek, dan Shopee umumkan WFH bagi karyawan kantor mulai 23 Januari. Namun ada juga yang tetap minta karyawan datang karena pekerjaan tidak bisa remote.

Dampak ke Mobilitas & Ekonomi Jakarta

Imbauan WFH langsung kurangi volume kendaraan di jalan hingga 40% di jam sibuk. Kemacetan di Sudirman-Thamrin turun drastis dari biasanya 2–3 jam jadi hanya 30–45 menit. TransJakarta catat penumpang turun 25% di pagi hari.

Ekonomi Jakarta tetap berjalan meski banyak kantor sepi. Sektor online, e-commerce, dan layanan digital justru meningkat karena orang lebih banyak di rumah.

WFH Jadi Solusi Cerdas Hadapi Cuaca Ekstrem

Imbauan WFH dari Pemprov DKI jadi langkah tepat di tengah cuaca ekstrem. Ini bukan hanya soal kemacetan, tapi keselamatan dan kesehatan warga Jakarta. Dengan teknologi remote work yang semakin matang, WFH bisa jadi solusi rutin saat musim hujan tiba.

Jakarta darurat cuaca ekstrem—WFH jadi pilihan bijak demi keselamatan bersama!

Pos terkait