Korelasi Bitcoin dan S&P 500 Bukan Sinyal Bullish, Ini Alasannya Menurut Analis On-Chain

Korelasi Bitcoin dan S&P 500 Bukan Sinyal Bullish

Halo Jakarta – Perubahan korelasi antara Bitcoin dan indeks S&P 500 belakangan ini sering dianggap sebagai sinyal positif oleh sebagian investor kripto. Banyak yang berpendapat bahwa korelasi negatif menunjukkan Bitcoin mulai mandiri dan tidak lagi mengikuti pergerakan pasar saham. Namun, analis on-chain Axel Adler Jr. justru memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, fenomena ini bukan sinyal bullish, melainkan menunjukkan bahwa Bitcoin masih berada dalam posisi yang relatif lemah dibandingkan pasar saham.

Hingga awal April 2026, Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran USD 67.000. Sementara itu, rasio harga BTC terhadap S&P 500 terus menurun sejak Januari 2026. Hal ini menandakan bahwa performa Bitcoin kalah dibandingkan indeks saham Amerika selama tiga bulan terakhir.

Bacaan Lainnya

Penjelasan Korelasi Negatif Bitcoin dan S&P 500

Korelasi 13 minggu antara Bitcoin dan S&P 500 saat ini berada di zona negatif. Artinya, pergerakan harga keduanya tidak lagi searah. Biasanya, ketika korelasi negatif muncul, banyak trader menganggap Bitcoin mulai berperilaku sebagai aset yang mandiri atau bahkan safe haven.

Namun, Axel Adler Jr. menegaskan bahwa interpretasi ini keliru. Korelasi negatif bisa terjadi karena dua hal: Bitcoin naik sementara saham turun, atau keduanya turun namun Bitcoin turun lebih lambat. Saat ini, kondisi yang terjadi lebih condong ke skenario kedua. Dengan demikian, Bitcoin belum menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya.

Rasio BTC/S&P 500 Menjadi Indikator yang Lebih Penting

Menurut Adler, indikator yang jauh lebih relevan untuk melihat kekuatan relatif Bitcoin adalah rasio harga BTC terhadap S&P 500. Rasio ini mengukur seberapa baik Bitcoin berkinerja dibandingkan pasar saham.

Sejak awal tahun 2026, rasio BTC/S&P terus mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin masih tertinggal jauh dari performa S&P 500. Jika rasio ini naik, baru bisa dikatakan Bitcoin mulai mengungguli pasar saham. Karena itu, korelasi negatif saat ini belum bisa dijadikan alasan untuk bersikap bullish.

Adler juga menambahkan bahwa pasar masih memandang Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi. Potensi penurunannya masih lebih besar dibandingkan S&P 500, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak yang Membebani Bitcoin

Selain faktor teknikal, Bitcoin juga masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Konflik antara AS dan Iran menyebabkan harga minyak melonjak hingga 50 persen sejak akhir Februari 2026. Kenaikan harga minyak ini menciptakan tekanan inflasi dan membuat investor lebih memilih aset aman.

Akibatnya, Bitcoin sempat turun ke bawah USD 65.000 sebelum akhirnya rebound tipis ke kisaran USD 67.000. Dalam 7 hari terakhir, BTC turun sekitar 6,5 persen, sedangkan dalam 14 hari penurunannya mendekati 10 persen.

Adler menilai selama tekanan pada S&P 500 masih berlanjut, Bitcoin kemungkinan besar akan tetap terdampak. Dengan kata lain, Bitcoin belum sepenuhnya lepas dari pengaruh pasar tradisional.

Apa yang Harus Diwaspadai Investor Kripto Saat Ini?

Berdasarkan analisis ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:

  • Jangan langsung menganggap korelasi negatif sebagai sinyal bullish.
  • Pantau pergerakan rasio BTC/S&P 500 sebagai indikator utama.
  • Perhatikan perkembangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak.
  • Gunakan strategi manajemen risiko yang ketat, terutama stop-loss.

Hingga saat ini, Bitcoin belum menunjukkan karakteristik sebagai aset safe haven. Performa relatifnya masih kalah dibandingkan pasar saham, sehingga investor harus realistis dengan risiko yang ada.

Apakah Anda setuju bahwa korelasi negatif Bitcoin dan S&P 500 bukan sinyal bullish? Bagaimana strategi trading Anda di tengah kondisi pasar saat ini? Bagikan pendapat dan pengalaman Anda di kolom komentar!

Pos terkait