Halo Jakarta – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya mengakui secara terbuka bahwa ribuan orang tewas selama gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran tahun 2022–2023. Pernyataan ini disampaikan Khamenei dalam pidato resmi pada 17 Januari 2026, yang menjadi yang pertama kali ia mengonfirmasi jumlah korban secara langsung. Khamenei menyalahkan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump sebagai dalang utama di balik kekerasan tersebut, menyebut Trump sebagai “penjahat besar” yang memicu kerusuhan melalui dukungan kepada oposisi. Pengakuan ini langsung memicu reaksi keras dari dalam dan luar negeri. Berikut kronologi, isi pernyataan Khamenei, respons internasional, serta implikasi politiknya.
Pengakuan Langsung Khamenei yang Mengejutkan Dunia
Dalam pidato yang disiarkan langsung melalui stasiun TV negara IRIB, Khamenei menyatakan bahwa demonstrasi 2022–2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini menyebabkan ribuan korban jiwa. Ia mengatakan, “Ribuan orang tewas dalam kerusuhan yang direncanakan musuh luar negeri. Ini adalah tragedi yang kami tanggung karena campur tangan asing.” Khamenei tidak menyebut angka pasti, tapi sumber internal Iran memperkirakan korban tewas mencapai 4.000–6.000 orang, termasuk demonstran, petugas keamanan, dan warga sipil.
Ini menjadi pengakuan resmi pertama dari pemimpin tertinggi Iran setelah selama bertahun-tahun pemerintah hanya mengakui ratusan korban. Pengakuan ini muncul setelah tekanan internasional dan laporan independen dari Amnesty International serta Human Rights Watch.
Tuduhan Langsung Khamenei terhadap Donald Trump
Khamenei secara eksplisit menyalahkan Donald Trump sebagai “penjahat utama” di balik kerusuhan. Ia mengatakan, “Trump dan rezimnya memprovokasi demonstrasi melalui dukungan finansial dan media kepada kelompok oposisi. Mereka ingin hancurkan Republik Islam Iran.” Khamenei menuding AS mendanai kelompok oposisi di luar negeri, termasuk media berbahasa Persia yang berbasis di AS dan Eropa.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Trump kembali menjabat dan mengancam akan perketat sanksi terhadap Iran jika program nuklir dilanjutkan. Ini juga jadi respons terhadap pernyataan Trump yang menyebut rezim Iran sebagai “pemerintahan teroris”.
Respons Internasional yang Keras
Pernyataan Khamenei langsung menuai respons keras dari Barat. Departemen Luar Negeri AS menyebut tuduhan itu “tidak berdasar” dan menegaskan bahwa demonstrasi 2022 adalah gerakan rakyat murni menuntut kebebasan. Uni Eropa melalui juru bicara Josep Borrell menyatakan bahwa pengakuan jumlah korban tewas harus diikuti dengan investigasi independen dan pertanggungjawaban.
Amnesty International menyerukan agar Khamenei membuka akses penuh bagi investigator PBB untuk menyelidiki kematian ribuan orang. “Pengakuan ini adalah langkah awal, tapi harus diikuti tindakan nyata,” kata Amnesty.
Respons dari Oposisi Iran dan Diaspora
Oposisi Iran di pengasingan, termasuk Maryam Rajavi dari PMOI, menyebut pengakuan Khamenei sebagai “pengakuan bersalah”. Mereka menuntut pengadilan internasional terhadap Khamenei dan pejabat tinggi IRGC. Diaspora Iran di Eropa dan AS menggelar demo besar-besaran menuntut pertanggungjawaban.
Di dalam negeri, keluarga korban menyambut pengakuan ini dengan campuran haru dan marah. Banyak yang menuntut kompensasi dan keadilan.
Implikasi Politik dan Diplomasi ke Depan
Pengakuan Khamenei ini bisa jadi sinyal bahwa rezim Iran mulai terbuka menghadapi masa lalu, tapi juga jadi senjata bagi AS dan Barat untuk tekan Iran lebih keras di forum internasional. Dengan Trump kembali berkuasa, sanksi baru terhadap Iran hampir pasti diberlakukan.
Di sisi lain, pengakuan ini juga bisa memicu gelombang protes baru di dalam negeri jika tidak diikuti tindakan nyata. Situasi di Iran tetap sangat rawan.
Khamenei akui ribuan tewas dalam demo—tuduh Trump penjahat utama. Dunia menanti langkah selanjutnya.




