Halo Jakarta – Harga Bitcoin kembali mengalami koreksi tajam pada 28 Januari 2026. BTC jebol support penting di bawah USD 85.000 dan sempat menyentuh level terendah USD 83.200 sebelum rebound tipis ke kisaran USD 84.500. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi posisi leverage di seluruh pasar kripto mencapai USD 430 juta (sekitar Rp 6,2 triliun), angka tertinggi dalam sebulan terakhir. Koreksi ini langsung memicu panic selling di kalangan trader ritel dan institusi. Berikut kronologi penurunan, penyebab utama, dampak ke altcoin, serta strategi bertahan bagi investor di tengah gejolak ini.
Kronologi Koreksi Tajam Bitcoin di Bawah USD 85.000
Pergerakan harga Bitcoin dalam 48 jam terakhir:
- 26 Januari malam: BTC sempat stabil di USD 88.500–89.000
- 27 Januari pagi: tekanan jual meningkat, turun ke USD 86.800
- 27 Januari malam: jebol support USD 85.000, anjlok hingga USD 83.200
- 28 Januari pagi: rebound tipis ke USD 84.500–85.000 (data 14.00 WIB)
Total likuidasi mencapai USD 430 juta dalam 24 jam, dengan USD 310 juta dari posisi long dan USD 120 juta dari short. Ini jadi likuidasi terbesar sejak koreksi akhir Desember 2025.
Penyebab Utama Koreksi Brutal Ini
Beberapa faktor yang memicu penurunan tajam:
- Profit Taking Institusi — Banyak whale dan ETF Bitcoin spot AS ambil untung setelah BTC sempat tembus USD 110.000 pekan lalu
- Outflow ETF Bitcoin Spot — ETF AS catat outflow USD 620 juta dalam 3 hari terakhir
- Sentimen Geopolitik — Ancaman tarif impor Trump dan ketegangan AS-China kembali memicu risk-off di aset berisiko
- Liquidasi Leverage Massal — Banyak trader over-leverage (10–100x) di Binance, Bybit, dan OKX terkena margin call
- Indeks Fear & Greed — Turun drastis dari 72 (Greed) ke 38 (Fear) dalam 48 jam
Secara teknikal, BTC jebol support krusial USD 85.000 dan kini tes zona USD 82.000–84.000 sebagai support baru.
Dampak ke Altcoin & Ekosistem Kripto Lainnya
Altcoin ikut terdampak parah:
- Ethereum turun 7,2% ke USD 4.180
- Solana anjlok 9,8% ke USD 188
- XRP dan Cardano masing-masing turun 8–11%
- Memecoin seperti Dogecoin dan PEPE koreksi hingga 15–20%
Total kapitalisasi pasar kripto global turun USD 280 miliar dalam 48 jam, dari USD 3,45 triliun menjadi USD 3,17 triliun. Volume likuidasi altcoin mencapai USD 180 juta dari total USD 430 juta.
Analisis Pengamat & Prediksi Jangka Pendek
Analis dari CryptoQuant menyatakan koreksi ini masih dalam batas wajar bull market. “Likuidasi besar sering terjadi di fase over-leverage. Kami perkirakan BTC rebound ke USD 95.000–100.000 dalam 1–2 minggu jika support USD 82.000 bertahan,” kata analis tersebut.
CoinBureau memprediksi altcoin akan lebih tertekan dibandingkan Bitcoin karena sentimen risk-off. “Tunggu konfirmasi rebound sebelum masuk lagi ke altcoin,” sarannya.
Strategi Investor Menghadapi Koreksi & Likuidasi Massal
Investor bisa lindungi portofolio dengan langkah berikut:
- Hindari Leverage Tinggi — Kurangi atau tutup posisi leverage 10x ke atas untuk sementara
- Dollar Cost Averaging (DCA) — Tetap beli rutin Bitcoin & Ethereum di level rendah
- Pindah ke Stablecoin — Alokasikan 30–50% portofolio ke USDT/USDC saat volatilitas tinggi
- Hold Jangka Panjang — Jangan panic sell; siklus bull biasanya bertahan 12–18 bulan pasca-halving
- Pantau On-Chain Metrics — Gunakan Glassnode dan CryptoQuant untuk lihat akumulasi whale
Tren bear trap sering terjadi di bull market—banyak yang jual di dasar dan beli kembali di puncak.
Likuidasi Rp 6,2 Triliun – Koreksi atau Bear Trap?
Bitcoin jebol di bawah USD 85.000 dengan likuidasi USD 430 juta jadi pengingat bahwa volatilitas kripto masih sangat tinggi. Namun fundamental tetap kuat: adopsi institusi, efek halving 2024, dan inflow ETF jangka panjang. Ini lebih terlihat sebagai koreksi sehat daripada awal bear market.
Pasar kripto tetap panas—siap-siap rebound atau waspadai koreksi lebih dalam lagi.
