Halo Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sedang mengkaji opsi militer terbatas terhadap Iran untuk memicu aksi protes besar-besaran di dalam negeri Republik Islam tersebut. Kabar ini muncul dari sumber-sumber di Gedung Putih dan intelijen AS pada 28 Januari 2026, hanya beberapa hari setelah Trump kembali menjabat periode kedua. Rencana ini langsung memicu ketegangan baru di Timur Tengah dan dunia internasional. Berikut detail rencana yang bocor, alasan di balik pertimbangan Trump, respons Iran, serta dampak geopolitik yang mungkin terjadi.
Bocoran Rencana Trump: Serangan Terbatas untuk Picu Kerusuhan Internal
Menurut laporan dari The New York Times dan sumber intelijen yang dikutip CNN, Trump dan tim keamanan nasionalnya sedang mempertimbangkan serangan presisi terhadap fasilitas militer atau nuklir Iran. Tujuannya bukan menghancurkan infrastruktur secara total, melainkan memprovokasi respons keras dari rezim Iran yang berujung pada gelombang protes rakyat seperti yang terjadi pada 2022–2023 pasca-kematian Mahsa Amini.
Beberapa poin kunci rencana yang sedang dikaji:
- Serangan drone atau rudal jelajah ke pangkalan IRGC atau situs pengayaan uranium
- Target dipilih agar minim korban sipil tapi cukup memalukan rezim
- Harapan: memicu demonstrasi massal yang melemahkan pemerintahan Ayatollah Khamenei
- Waktu pelaksanaan: kemungkinan dalam 3–6 bulan pertama masa jabatan kedua Trump
Trump disebut-sebut ingin “mengulang” efek sanksi maksimum era pertamanya, tapi kali ini dengan dukungan militer terbatas.
Alasan Trump Mempertimbangkan Opsi Militer
Beberapa faktor yang mendorong pertimbangan ini:
- Iran terus memperkaya uranium hingga mendekati level senjata nuklir
- Dukungan Iran kepada kelompok proksi (Houthi, Hizbullah, Hamas) semakin agresif
- Trump ingin tunjukkan “kekuatan” di awal masa jabatan kedua
- Tekanan dari sekutu Israel dan beberapa negara Teluk yang ingin Iran dilemahkan
- Sentimen domestik AS yang mendukung kebijakan keras terhadap Iran
Tim keamanan nasional Trump juga menilai rezim Iran sedang rentan karena ekonomi yang tertekan dan ketidakpuasan rakyat yang masih tinggi.
Respons Iran & Sekutu Regional yang Keras
Iran langsung bereaksi keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani menyebut rencana ini “provokasi berbahaya” dan memperingatkan AS akan menghadapi “respons tegas dan proporsional” jika nekat menyerang.
Hizbullah, Houthi, dan milisi pro-Iran di Irak juga menyatakan kesiapan membalas jika Iran diserang. Sementara Israel diam-diam mendukung opsi militer ini, tapi menyerahkan keputusan akhir ke Washington.
Reaksi Dunia Internasional & Media Sosial yang Ramai
Uni Eropa dan PBB menyerukan de-eskalasi dan dialog. China dan Rusia mengecam keras rencana AS sebagai “petualangan militer baru”. Di media sosial, tagar #TrumpAttackIran dan #IranUnderThreat trending global dengan opini terbelah: sebagian mendukung sikap keras Trump, sebagian lagi khawatir perang regional baru.
Implikasi Geopolitik & Ekonomi Global
Jika rencana ini terealisasi:
- Harga minyak dunia bisa melonjak tajam (kemungkinan USD 100–120 per barel)
- Pasar kripto dan saham global berpotensi anjlok karena sentimen risk-off
- Ketegangan di Selat Hormuz meningkat, ancam jalur perdagangan minyak dunia
- Indonesia sebagai importir minyak besar akan terdampak langsung melalui kenaikan harga BBM
Pemerintah Indonesia diminta siapkan langkah antisipasi jika konflik memanas.
Kesimpulan: Rencana Trump ke Iran – Ancaman Nyata atau Retorika Politik?
Pertimbangan Trump untuk serang Iran demi picu protes baru jadi isu paling panas di awal 2026. Apakah ini langkah nyata atau hanya retorika untuk tekan Iran? Yang pasti, dunia menahan napas menanti langkah selanjutnya dari Gedung Putih.
Trump kaji serang Iran untuk picu protes baru—Timur Tengah kembali tegang!




