Halo Jakarta – Stablecoin semakin memainkan peran penting dalam sistem keuangan global. Menurut laporan terbaru dari firma analitik blockchain Chainalysis, volume stablecoin yang disesuaikan diproyeksikan mencapai USD 719 triliun pada tahun 2035. Angka ini bahkan berpotensi melonjak hingga USD 1,5 kuadriliun jika faktor makro ekonomi mendukung pertumbuhan organik.
Laporan berjudul “The New Rails: How Digital Assets Are Reshaping the Foundations of Finance” ini menekankan bahwa stablecoin kini berkembang menjadi bagian inti dari infrastruktur keuangan modern, khususnya dalam proses pembayaran dan penyelesaian transaksi (settlement layer).
Mengapa Stablecoin Tumbuh Begitu Pesat?
Chainalysis menjelaskan bahwa stablecoin memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem keuangan tradisional. Pertama, stablecoin menawarkan penyelesaian transaksi yang jauh lebih cepat dan murah. Kedua, teknologi blockchain memungkinkan transparansi yang tinggi dan mengurangi risiko counterparty. Ketiga, stablecoin dapat berfungsi sebagai jembatan antara dunia keuangan tradisional dan ekosistem kripto.
“Stablecoin memiliki kemampuan sebagai lapisan penyelesaian transaksi yang skalabel dan mampu menampung lonjakan permintaan transaksi global,” tulis Chainalysis dalam laporannya.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh semakin banyaknya institusi keuangan besar yang mulai mengadopsi stablecoin untuk berbagai keperluan, mulai dari pembayaran lintas batas hingga tokenisasi aset riil.
Perbandingan dengan Sistem Keuangan Tradisional
Laporan Chainalysis juga menyoroti berbagai kelemahan sistem keuangan tradisional yang membuka peluang besar bagi stablecoin. Sistem pembayaran konvensional sering kali lambat, mahal, dan kurang inklusif, terutama bagi masyarakat unbanked di negara berkembang.
Stablecoin mampu mengatasi masalah tersebut dengan menawarkan akses yang lebih mudah, biaya rendah, dan kecepatan transaksi yang hampir instan. Karena itu, banyak negara mulai melihat stablecoin sebagai solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan dan efisiensi sistem pembayaran nasional.
Implikasi bagi Indonesia dan Pasar Kripto Lokal
Di Indonesia, pertumbuhan stablecoin juga mulai terlihat. Meski regulasi masih terus berkembang, volume transaksi stablecoin di exchange lokal terus meningkat. Bappebti dan OJK sedang mempersiapkan kerangka regulasi yang lebih komprehensif untuk mengakomodasi perkembangan ini.
Pertumbuhan stablecoin berpotensi memberikan manfaat besar bagi Indonesia, seperti:
- Mempercepat remitansi dan pembayaran lintas batas
- Meningkatkan inklusi keuangan di daerah terpencil
- Mendukung tokenisasi aset riil seperti properti dan komoditas
- Memberikan alternatif investasi yang lebih stabil dibandingkan kripto volatil
Namun, regulator juga harus mewaspadai risiko seperti pencucian uang dan volatilitas yang mungkin timbul dari stablecoin yang kurang terjamin.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Stablecoin hingga 2035
Chainalysis menyebut beberapa faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan stablecoin hingga 2035:
- Adopsi Institusional Semakin banyak bank dan perusahaan besar yang menggunakan stablecoin untuk settlement dan treasury management.
- Regulasi yang Lebih Jelas Negara-negara maju mulai menerbitkan regulasi khusus stablecoin, memberikan kepastian hukum bagi pelaku pasar.
- Integrasi dengan DeFi dan TradFi Stablecoin menjadi jembatan utama antara decentralized finance dan keuangan tradisional.
- Pertumbuhan Ekonomi Digital Meningkatnya e-commerce, gaming, dan Web3 mendorong permintaan stablecoin untuk transaksi sehari-hari.
- Inovasi Teknologi Kemajuan di bidang layer-2 dan blockchain interoperability membuat stablecoin semakin efisien dan scalable.
Risiko dan Tantangan yang Harus Diwaspadai
Meski prospeknya cerah, Chainalysis juga menyoroti beberapa risiko yang perlu diperhatikan:
- Risiko Regulasi Perubahan kebijakan mendadak di negara besar bisa memengaruhi pasar secara signifikan.
- Risiko Stabilitas Stablecoin yang kurang terjamin bisa kehilangan peg-nya dan memicu kepanikan pasar.
- Risiko Keamanan Serangan siber terhadap protokol stablecoin bisa menyebabkan kerugian besar.
- Risiko Adopsi Masih rendahnya literasi masyarakat terhadap stablecoin bisa memperlambat pertumbuhan.
Karena itu, pengembangan stablecoin harus diimbangi dengan regulasi yang kuat dan edukasi masyarakat yang masif.
Kesimpulan dan Proyeksi Jangka Panjang
Proyeksi Chainalysis bahwa stablecoin bisa mencapai USD 719 triliun pada 2035 menunjukkan betapa besar potensi aset digital ini dalam membentuk masa depan sistem keuangan global. Bahkan, dengan faktor makro yang mendukung, angka ini bisa mencapai USD 1,5 kuadriliun.
Bagi Indonesia, pertumbuhan stablecoin ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Pemerintah dan regulator perlu terus menyusun kerangka yang seimbang antara inovasi dan perlindungan konsumen agar Indonesia tidak tertinggal dalam revolusi keuangan digital ini.
Stablecoin bukan lagi sekadar aset kripto, melainkan infrastruktur keuangan baru yang sedang dibangun. Masa depan yang cerah menanti, asalkan semua pihak siap beradaptasi dan berkolaborasi.
Apakah Anda optimis dengan proyeksi pertumbuhan stablecoin hingga 2035? Bagaimana menurut Anda peran stablecoin di Indonesia ke depan? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!




