Roti O Minta Maaf Usai Video Pegawai Tolak Uang Tunai Lansia Viral

Halo Jakarta – Manajemen Roti O langsung minta maaf secara terbuka setelah video pegawai tolak pembayaran tunai dari lansia viral di media sosial. Insiden ini terjadi di outlet Roti O di kawasan Jakarta Selatan pada Sabtu 20 Desember 2025. Video berdurasi 30 detik itu tunjukkan seorang nenek berusia sekitar 70 tahun coba bayar roti pakai uang kertas Rp 50.000. Pegawai kasir tolak dengan alasan “kami hanya terima non-tunai”. Nenek itu kelihatan bingung dan akhirnya tinggalkan roti tanpa beli. Video ini langsung viral di TikTok dan X dengan jutaan view. Banyak netizen kritik Roti O diskriminasi lansia dan kurang ramah. Apa kronologi lengkap, respons Roti O, dan pelajaran dari kasus ini? Berikut ulasan mendalam.

Kronologi Video Viral yang Picu Kemarahan Netizen

Video diunggah oleh akun TikTok @wongjowo21 pada Sabtu malam 20 Desember 2025. Rekaman dari pengunjung lain tunjukkan nenek berpakaian sederhana antre di kasir. Ia pegang dua bungkus roti dan uang kertas Rp 50.000. Saat giliran, kasir bilang, “Maaf Bu, kami hanya terima pembayaran non-tunai, QRIS atau kartu.” Nenek itu tanya, “Nggak bisa pakai uang biasa ya Nak?” Kasir jawab tegas, “Tidak bisa Bu, kebijakan outlet.” Nenek kelihatan kecewa, taruh roti kembali, dan pergi tanpa beli.

Bacaan Lainnya

Video ini langsung ditonton 5 juta kali dalam 24 jam. Komentar penuh kemarahan: “Diskriminasi lansia!”, “Uang tunai masih sah, kok ditolak?”, “Roti O sombong banget.” Tagar #BoikotRotiO dan #TolakTunai trending di X. Banyak yang cerita pengalaman serupa di outlet lain. Ada yang bilang pegawai Roti O sering tolak uang tunai dengan alasan “sistem error” atau “kebijakan manajemen”.

Respons Cepat Roti O yang Minta Maaf dan Janji Perbaikan

Manajemen Roti O langsung respons Minggu pagi 21 Desember 2025. Mereka unggah pernyataan resmi di Instagram @rotio_indonesia dan situs resmi. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas insiden di outlet Jakarta Selatan. Tindakan pegawai tersebut tidak sesuai nilai perusahaan yang selalu ramah dan inklusif,” tulis pernyataan itu. Roti O janji beri sanksi kepada pegawai bersangkutan, termasuk pelatihan ulang soal pelayanan pelanggan. Mereka juga tegaskan bahwa semua outlet tetap terima pembayaran tunai sesuai aturan Bank Indonesia.

CEO Roti O Indonesia, Andi Wijaya, beri pernyataan langsung di konferensi pers virtual. “Kami sangat menyesal. Uang tunai tetap sah dan kami terima di semua outlet. Insiden ini karena miskomunikasi internal,” katanya. Roti O janji beri kompensasi kepada nenek korban: paket roti gratis seumur hidup dan voucher belanja Rp 5 juta. Mereka juga luncurkan kampanye “Roti O Untuk Semua” dengan promo khusus lansia di semua outlet.

Alasan Kebijakan Non-Tunai yang Picu Kontroversi

Beberapa outlet Roti O memang dorong pembayaran non-tunai sejak 2024. Alasan resmi: kurangi risiko uang palsu, cepat transaksi, dan ikuti tren cashless society. Tapi kebijakan ini tak wajib—hanya rekomendasi. Pegawai kasir di outlet viral salah terapkan dengan tolak tunai total. Ini langgar Peraturan Bank Indonesia No 23/2019 yang wajibkan terima uang rupiah sebagai alat pembayaran sah.

Netizen kritik keras. Banyak lansia dan warga pedesaan belum pakai QRIS atau e-wallet. “Diskriminasi digital terhadap lansia,” tulis akun @gerakanlansia. Kasus ini mirip insiden minimarket tolak tunai di Surabaya 2024 yang picu demo.

Dampak Viral ke Bisnis Roti O dan Respons Kompetitor

Video viral bikin saham induk Roti O turun 5 persen di bursa. Penjualan di outlet Jakarta Selatan turun 30 persen sehari setelah viral. Banyak netizen boikot dan pilih kompetitor seperti BreadTalk atau Tous Les Jours. Roti O langsung luncurkan promo “Bayar Tunai Diskon 20 Persen” untuk redam boikot.

Kompetitor seperti Sari Roti dan Holland Bakery manfaatkan momen. Mereka unggah iklan “Kami selalu terima tunai dengan senyuman”. Ini bikin persaingan pasar roti premium makin panas.

Pelajaran untuk Bisnis Retail di Era Digital

Kasus ini beri pelajaran besar. Bisnis retail harus inklusif, tak boleh paksa cashless kalau belum siap masyarakat. Lansia dan warga pedesaan masih andalkan tunai. Pelatihan pegawai soal pelayanan ramah jadi wajib. Roti O janji revisi SOP: tunai tetap prioritas, non-tunai opsional.

Pemerintah melalui BI dan OJK ingatkan bisnis wajib terima tunai. Kasus ini bisa jadi preseden untuk sanksi kalau ada laporan serupa.

Harapan Pemulihan Citra Roti O

Roti O yang berdiri sejak 2010 punya 500 outlet di Indonesia. Mereka terkenal roti premium dengan rasa Eropa. Kasus ini jadi ujian citra. Tapi respons cepat minta maaf dan kompensasi tunjukkan komitmen. Nenek korban sudah terima voucher dan paket roti. Ia bilang, “Sudah maafkan, yang penting pegawainya belajar.”

Roti O harus pulihkan kepercayaan. Kampanye “Roti O Untuk Semua” jadi langkah awal. Bisnis harus ingat: pelanggan nomor satu, tak peduli tunai atau digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *