Halo Jakarta – Kebakaran dahsyat melanda Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat malam 13 Desember 2025. Api mulai dari Blok A dan menyebar cepat ke Blok B, C, dan D. Lebih dari 500 kios ludes terbakar, ribuan pedagang kehilangan mata pencaharian. Kerugian diperkirakan Rp 5-10 miliar. Petugas pemadam kebakaran butuh 5 jam padamkan api. Tidak ada korban jiwa, tapi satu pedagang luka ringan. Apa kronologi kejadian, penyebab, dan dampaknya? Berikut ulasan lengkap yang bantu kamu paham seluruh cerita.
Kronologi Kebakaran yang Dimulai dari Blok A
Kebakaran pertama kali terdeteksi sekitar pukul 20.45 WIB. Seorang pedagang di Blok A lihat asap tipis keluar dari kios makanan ringan. Ia langsung ambil APAR tapi api sudah membesar. Dalam 10 menit, api menyambar atap kayu dan plafon plastik. Angin kencang malam itu bikin api cepat menyebar ke blok sebelah. Warga sekitar langsung teriak minta tolong. Pemadam kebakaran dari Dinas Penanggulangan Kebakaran Jakarta Timur tiba pukul 21.00 WIB dengan 20 unit truk. Mereka pasang tangga hidrolik dan selang besar untuk siram api dari atas.
Api paling sulit dikendalikan di Blok C karena banyak stok kain dan plastik. Petugas damkar bilang api butuh 5 jam baru bisa dikuasai sepenuhnya. Pukul 01.00 WIB Sabtu, api akhirnya padam. Tapi asap masih tebal hingga pagi. Ribuan pedagang berkumpul di depan pasar dengan wajah putus asa. Mereka lihat kios-kios yang sudah jadi abu.
Penyebab Kebakaran yang Diduga Listrik dan Kios Padat
Penyebab pasti masih dalam investigasi. Tapi saksi mata bilang api mulai dari instalasi listrik di kios makanan ringan. Kabel overload karena banyak alat elektronik seperti freezer dan kompor listrik. Pasar Kramat Jati terkenal padat kios—jarak antar kios cuma 1 meter, mudah api menyebar. Bahan bakar seperti kain, plastik, dan kardus jadi penyebab api besar. Dinas Pemadam Kebakaran bilang pasar ini sudah lama tidak ada perbaikan listrik dan sprinkler. Ini bikin api cepat membesar.
Kerugian yang Sangat Besar dan Ribuan Pedagang Terpukul
Kerugian diperkirakan Rp 5-10 miliar. Lebih dari 500 kios ludes terbakar. Pedagang kain, pakaian, makanan, dan sayur buah kehilangan stok. Banyak yang bilang “habis semua”. Seorang pedagang kain, Bu Siti (45), bilang, “Stok kain Rp 200 juta ludes dalam satu malam.” Pedagang makanan ringan kehilangan freezer dan kompor. Total pedagang terdampak sekitar 2.000 orang. Mereka butuh bantuan cepat untuk hidup lagi.
Respons Pemerintah dan Bantuan Darurat
Pemkot Jakarta Timur langsung gerak. Wali Kota Jakarta Timur M Anwar bilang, “Kami alokasikan Rp 2 miliar untuk bantuan pedagang.” Pemkot siapkan tempat sementara di lapangan terbuka dekat pasar. Dinas Sosial bagikan makanan dan selimut. Dinas Perdagangan bantu pedagang cari lokasi sementara. Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono kunjungi lokasi Sabtu pagi. Ia janji bangun ulang pasar dengan standar lebih aman. “Kami akan renovasi total, pasang sprinkler dan listrik baru,” katanya.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Luas
Pasar Induk Kramat Jati jadi pusat grosir terbesar di Jakarta Timur. Ribuan pedagang kecil kehilangan mata pencaharian. Banyak yang pinjam modal dari rentenir atau bank. Kebakaran ini bikin harga sayur buah naik 20 persen di pasar sekitar. Dampak sosial juga besar: stres, depresi, dan keluarga hancur. Pedagang bilang, “Kami hidup dari pasar ini. Sekarang habis semua.”
Pelajaran dari Kebakaran Ini
Kasus ini beri pelajaran penting.
- Pasar tradisional perlu perbaikan listrik dan sprinkler otomatis
- Pedagang harus punya asuransi kebakaran
- Pemerintah harus audit pasar rutin
- Warga sekitar harus siaga kebakaran dengan alat pemadam
Pemkot Jakarta Timur janji renovasi pasar dengan dana Rp 50 miliar. Pedagang harap bantuan cepat agar bisa bangkit lagi.
Tragedi ini pilu tapi beri pelajaran. Pasar Kramat Jati harus bangkit lebih kuat.




