Halo Jakarta – Pesta kembang api tetap mewarnai langit Jakarta dan Yogyakarta saat pergantian tahun ke 2026 meski polisi sudah larang keras. Ledakan warna-warni terlihat di Ancol Jakarta Utara, Bundaran HI, dan Malioboro Yogyakarta pada Rabu malam 31 Desember 2025 hingga Kamis dini hari 1 Januari 2026. Larangan ini keluar karena risiko kebakaran, polusi udara, dan gangguan ketertiban. Polisi razia pedagang kembang api dan sita ribuan petasan, tapi warga tetap nekat beli dari pasar gelap atau bawa dari luar kota. Apa kronologi malam Tahun Baru, dampaknya, respons polisi, dan pelajaran dari fenomena ini? Berikut ulasan lengkap.
Malam Tahun Baru yang Penuh Warna Meski Ada Larangan
Pergantian tahun 2025 ke 2026 berlangsung meriah di dua kota besar. Di Jakarta, ribuan warga kumpul di Ancol, Pantai Indah Kapuk, dan rooftop hotel untuk saksikan kembang api. Pukul 23.55 WIB, ledakan pertama muncul di atas Teluk Jakarta. Kembang api warna-warni meledak selama 15 menit, bikin langit cerah. Di Bundaran HI, warga nekat nyalakan petasan kecil meski polisi patroli ketat. Di Yogyakarta, Malioboro dan Tugu Jogja jadi spot favorit. Pukul 00.00 WITA, kembang api dari warga dan hotel mewah warnai langit selama 20 menit.
Warga bilang tradisi kembang api tak bisa hilang. “Tahun baru tanpa kembang api kurang greget,” kata Rina, warga Jakarta Utara yang bawa anak saksikan di Ancol. Banyak yang rekam video dan upload ke TikTok—tagar #TahunBaru2026 langsung trending dengan jutaan views.
Larangan Polisi yang Sudah Diumumkan Sejak Awal Desember
Polisi sudah larang keras kembang api sejak awal Desember 2025. Polda Metro Jaya dan Polda DIY razia pedagang di pasar tradisional dan online. Mereka sita ribuan petasan dan kembang api ilegal. Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan bilang, “Kembang api berisiko kebakaran dan polusi. Kami larang demi keselamatan warga.” Sanksi pidana ikuti UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang bahan peledak—penjara hingga 20 tahun.
Larangan ini dukung Pemprov DKI dan DIY yang khawatir polusi udara. Jakarta sudah masuk kategori tidak sehat sejak November. Yogyakarta juga alami kabut asap dari kebakaran lahan. Pemda minta warga rayakan Tahun Baru dengan acara ramah lingkungan seperti konser musik atau countdown virtual.
Alasan Warga Nekat Rayakan dengan Kembang Api
Warga tetap nekat karena tradisi Tahun Baru identik dengan kembang api. Banyak yang beli dari pasar gelap di pinggiran kota atau bawa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pedagang online pakai COD untuk hindari razia. Harga kembang api naik 50 persen karena kelangkaan—paket kecil Rp 500 ribu, paket besar Rp 2 juta. “Larangan ada, tapi permintaan tinggi. Kami jual diam-diam,” kata pedagang anonim di Pasar Minggu.
Anak muda bilang kembang api bikin euforia. “Countdown tanpa ledakan kurang seru,” kata Dika, mahasiswa UI yang rayakan di Ancol. Keluarga juga anggap ini momen bahagia bersama anak.
Dampak Kembang Api ke Kesehatan dan Lingkungan
Kembang api tinggalkan dampak buruk. Asap pekat bikin indeks kualitas udara Jakarta turun ke kategori sangat tidak sehat pada 1 Januari pagi. BMKG catat PM2.5 naik 200 persen. Rumah sakit laporkan lonjakan pasien sesak napas dan iritasi mata. Di Yogyakarta, kabut asap tambah parah. Kebakaran kecil terjadi di 5 titik Jakarta akibat petasan nyasar.
Polusi suara juga ganggu hewan peliharaan dan lansia. Banyak anjing stres dan lari dari rumah.
Respons Polisi dan Pemda yang Tetap Tegas
Polisi langsung razia malam Tahun Baru. Mereka sita 2 ton kembang api di Jakarta dan 500 kg di Yogyakarta. 50 orang ditangkap karena jual ilegal. Kapolri Listyo Sigit Prabowo puji anggota yang jaga malam Tahun Baru. “Larangan demi keselamatan. Kami tak kompromi,” katanya.
Pemprov DKI dan DIY gelar acara alternatif. Jakarta adakan konser di Monas dengan artis lokal. Yogyakarta gelar festival lampion di Malioboro. Tapi warga tetap pilih kembang api pribadi.
Pelajaran dari Fenomena Ini
Fenomena ini tunjukkan tradisi sulit diubah meski ada larangan. Pemerintah butuh pendekatan lebih lunak seperti sediakan zona khusus kembang api dengan pengawasan ketat. Edukasi risiko kesehatan dan lingkungan harus intensif sejak dini. Acara resmi ramah lingkungan bisa jadi alternatif menarik.
Tahun Baru 2026 tetap meriah. Kembang api jadi simbol harapan, tapi keselamatan harus prioritas.




