Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak Akhirnya Ditemukan! Tim SAR Temukan Puing di Pegunungan

Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak

Halo Jakarta – Pesawat ATR 42-500 milik maskapai TransNusa yang hilang kontak pada 14 Januari 2026 akhirnya ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Minggu malam 15 Januari 2026. Pesawat yang membawa 62 penumpang dan 6 awak ini hilang kontak saat melintas di atas pegunungan di wilayah Nusa Tenggara Timur. Tim SAR menemukan puing-puing pesawat di lereng gunung dengan ketinggian sekitar 1.800 meter di Kabupaten Manggarai Barat. Penemuan ini mengakhiri pencarian selama hampir 36 jam yang melibatkan helikopter, pesawat CN-235, dan ratusan personel darat. Apa kronologi kejadian, lokasi penemuan, kondisi puing, serta respons pemerintah dan keluarga korban? Berikut ulasan lengkap.

Kronologi Hilang Kontak Pesawat ATR 42-500 TransNusa

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor penerbangan TNU-501 rute Labuan Bajo–Ruteng lepas landas dari Bandara Komodo, Labuan Bajo pada pukul 10.15 WITA. Pesawat seharusnya mendarat di Bandara Frans Seda, Ruteng pukul 10.45 WITA. Namun pada pukul 10.32 WITA, pilot melaporkan kondisi cuaca buruk dan meminta izin menurunkan ketinggian. Setelah itu, kontak dengan ATC hilang total.

Bacaan Lainnya

Pada pukul 11.00 WITA, ATC menyatakan pesawat hilang kontak. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AU, TNI AL, Polri, dan maskapai TransNusa langsung dikerahkan. Pencarian difokuskan di wilayah pegunungan Manggarai Barat karena pesawat kemungkinan besar mengalami kecelakaan di daerah tersebut.

Penemuan Puing Pesawat di Pegunungan Manggarai Barat

Tim SAR menemukan puing pesawat pada pukul 19.45 WITA 15 Januari 2026 di lereng Gunung Ruteng, Kabupaten Manggarai Barat, sekitar 15 km dari Bandara Frans Seda. Lokasi penemuan berada di ketinggian 1.800 meter dengan medan sangat sulit. Puing pertama yang ditemukan adalah bagian sayap dan ekor pesawat yang tercerai-berai. Tim SAR juga menemukan beberapa bagian badan pesawat dan barang-barang penumpang tersebar di radius 500 meter.

Hingga Senin pagi 16 Januari 2026, tim SAR masih melakukan pencarian korban dan black box (FDR dan CVR). Kepala Basarnas Marsdya Henri Alfiandi menyatakan bahwa kondisi medan sangat berat, sehingga proses evakuasi korban diperkirakan memakan waktu beberapa hari.

Respons Pemerintah, Maskapai, dan Keluarga Korban

Presiden Prabowo Subianto langsung menyatakan duka cita mendalam. Ia memerintahkan Basarnas, TNI, dan Polri untuk prioritaskan pencarian dan evakuasi korban. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga turun langsung ke lokasi dan memimpin posko SAR.

Maskapai TransNusa menyatakan turut berduka dan siap bekerja sama penuh dengan pihak berwenang. Perusahaan juga membuka posko keluarga korban di Bandara Komodo dan Frans Seda.

Keluarga korban yang berkumpul di bandara menangis haru saat mendengar kabar penemuan puing. Mereka berharap proses evakuasi korban segera dilakukan.

Dampak ke Penerbangan dan Keamanan Udara di NTT

Kejadian ini langsung memicu evaluasi keamanan penerbangan di wilayah NTT. Kemenhub dan KNKT akan selidiki penyebab kecelakaan, termasuk faktor cuaca, teknis pesawat, dan keputusan pilot. Semua penerbangan ATR 42-500 di wilayah NTT sementara ditangguhkan hingga investigasi selesai.

Pemerintah juga berencana tingkatkan fasilitas radar dan komunikasi di bandara-bandara kecil di NTT untuk cegah kejadian serupa.

Pelajaran dan Harapan dari Tragedi Ini

Kejadian hilangnya pesawat ATR 42-500 jadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan harus jadi prioritas utama. Cuaca ekstrem di wilayah pegunungan NTT sering jadi faktor risiko tinggi. Pemerintah diharapkan tingkatkan infrastruktur dan pelatihan pilot di daerah terpencil.

Penemuan puing pesawat jadi titik terang di tengah duka. Tim SAR terus bekerja keras untuk evakuasi korban dan black box agar penyebab kecelakaan bisa terungkap.

Pesawat TransNusa ditemukan—tapi duka masih menyelimuti. Keselamatan penerbangan harus jadi prioritas bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *