Halo Jakarta – Tahun 2025 jadi tahun paling brutal bagi dunia kripto dengan total kerugian akibat hack, scam, dan exploit mencapai Rp 118 triliun secara global—angka tertinggi sepanjang sejarah! Data dari Chainalysis dan PeckShield menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan korban terbanyak di Asia Tenggara. Korban sering kali hanya bisa menyaksikan dana mereka lenyap secara real-time di blockchain tanpa bisa berbuat banyak. Apa penyebab utama kerugian fantastis ini, kasus terbesar di 2025, cara penjahat beraksi, serta tips amankan aset kripto di 2026? Berikut ulasan lengkap.
Kerugian Kripto Global 2025: Rp 118 Triliun Raib dalam Setahun!
Chainalysis mencatat total kerugian kripto dunia di 2025 mencapai USD 8,1 miliar (sekitar Rp 118 triliun dengan kurs Rp 14.500/USD). Angka ini naik 45% dari 2024 yang “hanya” USD 5,6 miliar. Indonesia sendiri menyumbang kerugian sekitar Rp 12–15 triliun, terutama dari scam phishing, rug pull memecoin, dan exploit smart contract.
Korban rata-rata kehilangan Rp 50–500 juta per orang. Banyak yang hanya bisa menonton dana mereka berpindah ke wallet penjahat di blockchain—transparan tapi tak bisa dibalik karena sifat irreversibel transaksi kripto.
Kasus Terbesar yang Bikin Korban Menangis Darah
Beberapa kasus paling mengerikan di 2025:
- Rug Pull Memecoin di Solana — Proyek “MoonPuppy” rug pull Rp 8,5 triliun dalam 3 hari, developer kabur dengan dana
- Exploit Bridge Ronin Network — Hacker curi Rp 15 triliun aset dari bridge Ronin (kasus lama tapi efeknya masih terasa di 2025)
- Phishing Massal via Telegram — Ribuan korban Indonesia kehilangan wallet karena link phishing palsu, total Rp 4,2 triliun
- Hack Exchange Lokal — Salah satu exchange kecil di Indonesia diretas, kerugian Rp 1,8 triliun, pengguna panik tarik dana
Korban sering kali hanya bisa lihat transaksi di Etherscan atau Solscan—dana berpindah ke wallet mixer seperti Tornado Cash atau chain anonim.
Cara Penjahat Kripto Beraksi di 2025
Penjahat kripto semakin canggih:
- Phishing Pintar — Kirim link palsu via Telegram/Discord yang mirip situs resmi exchange
- Rug Pull Memecoin — Buat token viral, pompa harga, lalu tarik likuiditas secara mendadak
- Exploit Smart Contract — Manfaatkan bug di kode kontrak untuk curi dana pool
- Social Engineering — Tipu korban lewat “support” palsu atau “giveaway” di Twitter/X
- Wallet Drainer — Malware yang curi private key saat korban klik link berbahaya
Semua transaksi tercatat permanen di blockchain—korban bisa lihat dana raib, tapi hampir mustahil dilacak balik jika masuk mixer atau chain privacy.
Respons Regulator & Exchange di Indonesia
Bappebti dan OJK langsung tingkatkan pengawasan:
- Wajibkan semua exchange berizin terapkan AML/KYC ketat
- Edukasi massal via webinar dan konten TikTok
- Kerja sama dengan Chainalysis untuk lacak transaksi mencurigakan
- Dorong pengguna pakai hardware wallet dan 2FA
Exchange seperti Tokocrypto dan Indodax tambah fitur keamanan seperti withdrawal whitelist dan anti-phishing code.
Tips Amankan Aset Kripto Agar Tidak Jadi Korban di 2026
Agar tidak jadi korban berikutnya, lakukan ini:
- Gunakan hardware wallet (Ledger/Trezor) untuk simpan aset besar
- Aktifkan 2FA dan anti-phishing code di semua exchange
- Jangan klik link mencurigakan dari DM atau email
- Verifikasi alamat wallet sebelum kirim dana
- Hindari memecoin atau proyek baru tanpa riset mendalam
- Gunakan VPN dan antivirus saat akses exchange
Kripto beri peluang cuan besar, tapi juga risiko hilang dana permanen.
Kesimpulan: Rp 118 Triliun Raib – Pelajaran Mahal untuk 2026
Tahun 2025 jadi tahun paling mahal dalam sejarah kripto dengan kerugian Rp 118 triliun. Indonesia jadi salah satu korban terbesar karena tingginya jumlah investor ritel. Tapi ini juga jadi momentum untuk tingkatkan keamanan dan literasi kripto.
Penjahat kripto gasak Rp 118 triliun—korban cuma bisa nonton dana raib di blockchain. Jangan sampai kamu jadi korban berikutnya!




