Halo Jakarta – Indonesia kembali dihebohkan dengan gelombang impor pickup murah dari India. Model yang dijuluki “Kopdes Merah Putih” ini masuk dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan produk lokal. Hasilnya? Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperingatkan: 20.000 pekerja di rantai pasok otomotif nasional terancam kehilangan pekerjaan!
Impor sebanyak 10.000 unit pickup ini setara dengan hilangnya 20.000 lapangan kerja di sektor manufaktur komponen, perakitan, dan UMKM pendukung. Ini bukan sekadar angka – ini nyawa ribuan keluarga buruh yang bergantung pada industri otomotif dalam negeri.
Mengapa Pickup India Begitu Murah?
Pickup “Kopdes Merah Putih” ini dibanderol jauh di bawah harga produk sekelas buatan Indonesia. Alasan utamanya:
- Biaya tenaga kerja di India jauh lebih rendah.
- Skala produksi massal dan subsidi pemerintah India.
- Komponen lokal yang lebih murah dan rantai pasok efisien.
Hasilnya: harga jual di Indonesia bisa 30–40% lebih rendah dibandingkan pickup buatan lokal. Konsumen senang dapat kendaraan murah untuk usaha tani, dagang, dan angkutan desa. Tapi industri dalam negeri menjerit: “Ini bunuh pelan-pelan!”
Dampak Nyata: 20.000 Pekerja Terancam, UMKM Komponen Hancur
Kemenperin menghitung secara teliti: setiap unit pickup yang diimpor menghilangkan 2 lapangan kerja di rantai pasok domestik (perakitan, stamping, welding, cat, interior, ban, aki, kaca, kabel, hingga suku cadang kecil).
Dengan 10.000 unit impor, totalnya 20.000 pekerja terdampak langsung. Belum termasuk efek domino ke UMKM level 2 dan 3 yang memasok bahan baku serta jasa pendukung.
Lebih lanjut, impor ini melemahkan utilisasi pabrik lokal. Banyak lini produksi pickup domestik beroperasi di bawah kapasitas, sehingga biaya overhead naik dan harga jual makin sulit bersaing.
“Impor 10.000 unit setara hilangnya 20.000 lapangan kerja di sektor otomotif,” tegas pejabat Kemenperin.
Ini bukan prediksi – ini realitas yang sudah terjadi di sektor otomotif Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Impor massal kendaraan niaga murah dari India dan China terus menggerus pangsa pasar produk lokal.
Mengapa Kebijakan Ini Berbahaya Jangka Panjang?
Impor massal bukan hanya soal harga murah hari ini. Ada konsekuensi besar:
- Hilangnya keahlian dan teknologi perakitan domestik.
- Ketergantungan semakin tinggi pada impor komponen dan kendaraan utuh.
- Penurunan investasi asing di sektor manufaktur otomotif Indonesia.
- Potensi PHK massal di pabrik-pabrik komponen dan perakitan.
Industri otomotif adalah salah satu penyumbang terbesar PDB manufaktur Indonesia. Jika sektor ini tergerus, efeknya akan terasa hingga sektor pendukung seperti logistik, baja, karet, dan plastik.
Solusi yang Dibutuhkan: Lindungi Industri Lokal Tanpa Menutup Pasar
Kemenperin dan pelaku industri mendorong kebijakan yang lebih seimbang:
- Tarif impor lebih tinggi untuk kendaraan niaga utuh.
- Insentif pajak dan subsidi bagi produksi lokal.
- Kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang lebih ketat.
- Program relokasi dan pelatihan ulang bagi pekerja terdampak.
Tanpa langkah tegas, Indonesia berisiko kehilangan salah satu pilar industri nasional demi harga murah sementara. Konsumen mungkin senang hari ini, tapi besok ribuan keluarga buruh bisa kehilangan mata pencaharian.
Apakah impor pickup murah ini benar-benar “solusi” untuk petani dan pedagang desa? Atau justru mengorbankan masa depan industri dan jutaan pekerja Indonesia? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar – isu ini menyangkut nasib ekonomi rakyat kecil dan kedaulatan industri nasional!




