Halo Jakarta – Bos Parameter Politik Indonesia (PPI) Deden Riki Wahyudi memberikan komentar pedas terkait kehadiran Presiden ke-7 Joko Widodo di Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar. Dalam pernyataan resminya pada 30 Januari 2026, Deden menyebut Jokowi sedang “menguji kesaktian” dirinya sendiri dengan memberikan dukungan penuh kepada PSI—partai yang dipimpin anak bungsunya, Kaesang Pangarep. Pernyataan ini langsung memicu perdebatan sengit di kalangan politisi, pengamat, dan netizen. Berikut isi lengkap pernyataan Deden, latar belakang komentarnya, respons berbagai pihak, serta implikasi politik yang muncul.
Pernyataan Pedas Bos PPI: Jokowi “Uji Kesaktian” untuk PSI
Deden Riki Wahyudi menilai kehadiran Jokowi di Rakernas PSI bukan sekadar dukungan biasa. Ia menyebutnya sebagai “ujian kesaktian” bagi Jokowi pasca-kepresidenan.
“Pak Jokowi sedang menguji kesaktian dirinya sendiri. Apakah pengaruhnya masih kuat? Apakah PSI bisa jadi kendaraan politik yang tangguh? Ini seperti ujian bagi beliau setelah tidak lagi berkuasa,” kata Deden dalam keterangan tertulis yang diterima media.
Deden juga menyinggung bahwa PSI masih dianggap sebagai partai kecil dan bergantung pada “efek Jokowi” serta figur Kaesang. “Kalau tanpa Pak Jokowi, PSI bisa apa? Ini ujian nyata,” tambahnya.
Latar Belakang Komentar & Konteks Rakernas PSI
Komentar ini muncul pasca-Jokowi menghadiri Rakernas PSI di Makassar pada 30–31 Januari 2026. Di acara tersebut, Jokowi disambut ribuan kader dengan aksi unik “Hu Hu Hu” dan memberikan arahan soal visi Indonesia maju serta peran pemuda.
PSI sendiri sedang gencar konsolidasi menjelang Pilkada 2024 dan Pemilu 2029. Kehadiran Jokowi dianggap sebagai booster besar bagi citra partai yang selama ini dikritik sebagai “partai dinasti” atau “partai anak presiden”.
Respons Publik & Media Sosial yang Panas
Reaksi masyarakat langsung terbelah. Pendukung PSI dan Jokowi membela keras: “Bos PPI iri karena PSI makin kuat dengan dukungan Pak Jokowi!” Tagar #JokowiUjiKesaktian dan #PSISolid trending di X.
Di sisi lain, banyak netizen dan pengamat politik setuju dengan Deden: “Benar juga, tanpa Jokowi PSI sulit berkembang. Ini ujian buat PSI dan Jokowi sendiri.” Sebagian besar komentar menilai pernyataan Deden cukup tajam dan realistis.
Implikasi Politik & Citra PSI ke Depan
Pernyataan bos PPI ini bisa jadi cambuk bagi PSI untuk membuktikan diri sebagai partai yang mandiri dan bukan sekadar “kendaraan politik keluarga Jokowi”. Jika PSI berhasil menunjukkan performa di Pilkada 2024 dan Pemilu 2029 tanpa “efek Jokowi”, kritik seperti ini akan melemah. Sebaliknya, jika PSI tetap bergantung pada figur Jokowi, label “partai dinasti” akan semakin melekat.
Tantangan terbesar PSI: membangun basis massa yang kuat di daerah dan lolos parliamentary threshold tanpa mengandalkan nama besar Jokowi.
“Uji Kesaktian” Jokowi untuk PSI – Saatnya Buktikan!
Komentar pedas dari bos PPI bahwa Jokowi sedang “menguji kesaktian” dirinya sendiri melalui dukungan ke PSI langsung jadi bahan perbincangan nasional. Apakah ini akan jadi motivasi PSI untuk bangkit mandiri, atau justru memperkuat narasi “partai dinasti”? Yang pasti, dunia politik Indonesia kembali panas di awal 2026.
Jokowi “uji kesaktian” demi PSI—pernyataan bos PPI yang bikin heboh!




