Halo Jakarta – Harga Bitcoin kembali tertekan setelah The Federal Reserve (The Fed) secara resmi mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25–4,50% pada pertemuan FOMC 28–29 Januari 2026. Keputusan ini langsung memicu sentimen risk-off di pasar aset berisiko, termasuk kripto. BTC anjlok hingga 5–7% dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh level terendah USD 92.800 sebelum rebound tipis ke kisaran USD 95.000–96.000. Altcoin pun ikut terdampak parah. Berikut kronologi penurunan, alasan utama The Fed bertahan hawkish, dampak ke pasar kripto global & Indonesia, serta strategi bertahan bagi investor.
Kronologi Koreksi Tajam Pasca Keputusan The Fed
Pergerakan harga dalam 48 jam terakhir:
- 28 Januari malam (sebelum pengumuman): BTC masih bertahan di atas USD 98.000
- 29 Januari malam (pasca FOMC): The Fed umumkan suku bunga tetap + dot plot hawkish (hanya 2 potong suku bunga di 2026)
- 30 Januari pagi: BTC langsung jebol support USD 95.000 dan sempat sentuh USD 92.800
- Likuidasi leverage massal mencapai USD 680 juta dalam 24 jam (CoinGlass)
Ini jadi koreksi terdalam Bitcoin sejak awal Januari 2026 setelah sempat rebound kuat ke atas USD 108.000.
Alasan The Fed Bertahan Hawkish & Dampaknya ke Kripto
Jerome Powell dalam konferensi pers menegaskan:
- Inflasi masih di atas target 2% dan menunjukkan tanda-tanda “sticky”
- Pasar tenaga kerja tetap kuat, tidak ada urgensi untuk potong suku bunga cepat
- Dot plot 2026 hanya proyeksikan 2 kali potong suku bunga (bukan 3–4 kali seperti ekspektasi pasar)
Keputusan ini langsung memicu:
- Penguatan dolar AS (DXY naik ke 106,2)
- Penurunan minat terhadap aset berisiko termasuk saham tech & kripto
- Outflow dari ETF Bitcoin spot AS mencapai USD 450 juta dalam 48 jam
Altcoin terdampak lebih parah: Ethereum turun 8–10%, Solana 12–15%, memecoin seperti DOGE & PEPE anjlok hingga 20–25%.
Dampak ke Investor Indonesia & Sentimen Pasar Lokal
Di Indonesia, volume trading di exchange lokal seperti Tokocrypto dan Indodax langsung melonjak karena panic selling & bargain hunting. Banyak investor ritel yang masuk di puncak akhir 2025 kini terjebak posisi rugi besar.
Sentimen di grup Telegram dan komunitas lokal bercampur:
- Sebagian panic sell dan keluar pasar
- Sebagian lain melihat ini sebagai “buy the dip” karena fundamental Bitcoin masih kuat
Bappebti mengimbau masyarakat tetap tenang dan hindari FOMO/FUD berlebihan.
Analisis Pengamat & Prediksi Jangka Pendek
Analis CryptoQuant menyatakan koreksi ini masih dalam batas wajar bull cycle. “Pasar sedang mencerna keputusan The Fed. Support kuat ada di USD 88.000–92.000. Jika bertahan, rebound ke USD 105.000–110.000 sangat mungkin dalam 2–4 minggu,” kata analis tersebut.
CoinBureau menambahkan: “Ini bukan awal bear market. Likuidasi besar sering jadi katalisator rebound kuat. Tetap hold BTC & ETH untuk jangka menengah.”
Strategi Bertahan & Peluang di Tengah Koreksi
Investor bisa ambil langkah berikut:
- Dollar Cost Averaging (DCA) — Tetap beli rutin di level rendah
- Pindah sebagian ke stablecoin — Kurangi risiko volatilitas jangka pendek
- Hindari leverage tinggi — Likuidasi massal biasanya terjadi pada posisi over-leveraged
- Pantau data on-chain — Akumulasi whale masih berlanjut di zona USD 90.000–95.000
- Hold jangka panjang — Siklus bull pasca-halving biasanya bertahan 12–18 bulan
Koreksi ini bisa jadi kesempatan akumulasi bagi investor yang sabar.
The Fed Tahan Suku Bunga → Bitcoin Koreksi, Tapi Bull Run Belum Berakhir
Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga memicu koreksi tajam di pasar kripto. Namun analis sepakat ini masih koreksi sehat dalam bull cycle panjang. Investor disarankan tetap tenang, hindari panic selling, dan gunakan momentum ini untuk akumulasi aset berkualitas.
Bitcoin tertekan usai The Fed tahan suku bunga—koreksi atau kesempatan beli?




