Halo Jakarta – Aktivis senior Kontras Andrie Yunus menjadi korban serangan keji. Pada malam Minggu, 9 Maret 2026, pelaku menyiram air keras ke wajah dan tubuhnya. Kejadian ini terjadi tepat setelah Andrie merekam podcast yang membahas isu remiliterisasi di Indonesia.
Serangan itu berlangsung di kawasan Jakarta Selatan. Pelaku mendekat dari belakang, menyiram cairan korosif, lalu kabur dengan sepeda motor. Rekan kerja Andrie segera membawanya ke RSCM. Saat ini tim medis masih berupaya stabilkan kondisinya. Luka bakar parah menimpa wajah, leher, dan kedua tangan.
Kronologi Kejadian yang Terungkap
- Sekitar pukul 21.30 WIB – Andrie selesai merekam podcast di studio swasta. Topiknya membahas remiliterisasi dan dampaknya terhadap demokrasi.
- Pukul 21.45 WIB – Saat berjalan ke parkiran, seorang pria bertopeng menyiram cairan dari botol ke arah wajah korban.
- Pukul 22.00 WIB – Rekan kerja membawa Andrie ke RSCM dalam kondisi kritis.
- CCTV di sekitar lokasi merekam pelaku kabur dengan motor tanpa plat nomor.
Polres Metro Jakarta Selatan langsung membentuk tim khusus. Kapolres Metro Jaksel Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi menyatakan penyelidikan berjalan cepat.
“Kami sudah amankan rekaman CCTV dan periksa saksi mata. Serangan ini terencana dan sangat serius. Pelaku akan kami tangkap secepat mungkin,” tegas Ade Ary.
Kecaman Luas dari Berbagai Pihak
Kasus ini langsung menuai kecaman keras:
- Kontras menyatakan: “Serangan ini menyerang seluruh aktivis dan kebebasan berpendapat di Indonesia.”
- Komnas HAM mendesak penegakan hukum yang tegas dan independen.
- LBH Jakarta menuntut negara memberikan jaminan keamanan bagi aktivis kritis.
- Amnesty International Indonesia menyebut ini bentuk intimidasi sistematis terhadap pembela HAM.
Podcast yang Andrie rekam belum dirilis. Proses produksi terhenti karena kejadian ini. Isi podcast membahas remiliterisasi, peran TNI dalam kehidupan sipil, dan potensi ancaman terhadap demokrasi.
Tuntutan Publik & Harapan ke Depan
Aktivis, jurnalis, dan masyarakat sipil menuntut beberapa hal:
- Penyidikan transparan dan cepat.
- Perlindungan negara bagi aktivis dan pembela HAM.
- Penghentian pola kekerasan terhadap suara kritis.
- Audit keamanan bagi pembuat konten independen.
Indonesia kembali menghadapi pertanyaan besar: sampai kapan kebebasan berpendapat harus dibayar dengan nyawa dan luka bakar kimia? Serangan ini bukan hanya terhadap Andrie Yunus. Ini menyerang seluruh ruang publik yang masih tersisa.
Apakah pemerintah akan memberikan perlindungan nyata bagi aktivis? Atau pola intimidasi ini akan terus berlanjut? Bagikan dukungan dan pandangan Anda di kolom komentar. Suara publik sangat dibutuhkan untuk menuntut keadilan bagi Andrie Yunus dan seluruh pembela HAM di Indonesia.
