Halo Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi besar-besaran penangkapan ikan sapu-sapu pada Jumat, 17 April 2026. Hasilnya, petugas berhasil menangkap 6,98 ton atau sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu dari berbagai lokasi di lima wilayah Jakarta. Setelah ditangkap, ikan-ikan tersebut langsung dibelah dan dikubur di titik-titik dekat pintu air.
Operasi ini dilakukan untuk mengendalikan populasi ikan invasif yang mengganggu ekosistem perairan ibu kota. Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys) berasal dari Amerika Selatan dan semula populer sebagai ikan hias akuarium.
Alasan Utama Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di sungai dan perairan Jakarta mengandung logam berat dalam kadar tinggi. Kadar residu logam berat rata-rata sudah di atas 0,3, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi manusia maupun hewan.
“Di negara-negara yang airnya lebih bersih pun itu sudah cukup tinggi. Di Jakarta, kita sudah menemukan rata-rata sudah di atas 0,3 dan itu berbahaya,” ungkap Pramono.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Haeru Rahayu, menambahkan bahwa jika diolah menjadi tepung ikan pun tetap berbahaya. Residu logam berat bisa masuk ke rantai makanan dan berpotensi membahayakan manusia.
Tujuan Penguburan dan Pencegahan Penyelewengan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menegaskan bahwa semua ikan hasil tangkapan langsung dikubur dan diawasi ketat. Tujuannya mencegah penyelewengan, seperti penjualan ilegal ke pedagang.
“Tidak ada penyalahgunaan karena semuanya langsung dikubur dan diawasi oleh tim DKPKP wilayah,” kata Hasudungan.
Ikan sapu-sapu dibelah dua sebelum dikubur untuk memastikan tidak ada yang dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab.
Dampak Ikan Sapu-sapu terhadap Ekosistem
Ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang sangat tangguh. Ia bisa bertahan di perairan tercemar, hidup hingga 10-15 tahun, tumbuh mencapai 50 cm, dan berkembang biak cepat. Populasi ikan ini sudah mendominasi hingga 60-90% di beberapa titik perairan Jakarta, sehingga mengancam kelangsungan ikan lokal seperti wader.
Karena sifatnya yang rakus, ikan sapu-sapu memonopoli sumber makanan dan merusak habitat ikan asli. Hal ini juga berdampak pada keanekaragaman hayati perairan Jakarta.
Upaya Jangka Panjang Pengendalian
Pemprov DKI Jakarta tidak hanya melakukan penangkapan sesaat. Untuk jangka panjang, mereka akan melibatkan akademisi dan mencari teknologi yang tepat guna mengendalikan populasi ikan sapu-sapu secara berkelanjutan.
Saat ini, operasi penangkapan rutin terus dilakukan sambil menunggu solusi jangka panjang yang lebih efektif.
Apakah operasi pembersihan ikan sapu-sapu ini cukup efektif mengatasi masalah ekosistem Jakarta? Menurut Anda, apa solusi terbaik untuk mengendalikan ikan invasif ini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!




