Halo Jakarta – Komunitas kripto kembali ramai dengan perdebatan sengit tentang desentralisasi. Kali ini, pendiri Solana, Anatoly Yakovenko, secara tegas menyatakan bahwa jaringan Solana lebih terdesentralisasi dibandingkan Ethereum. Pernyataan ini langsung memicu respons keras dari komunitas Ethereum dan para kritikus Solana.
Yakovenko tidak hanya berbicara tanpa dasar. Ia menyajikan sejumlah data konkret. Namun, lawan bicaranya menilai bahwa Solana masih rentan terhadap sentralisasi. Mereka menunjuk pada konsentrasi node dan riwayat outage. Lalu, siapa yang benar? Mari kita bahas argumen kedua belah pihak secara teknis dan jujur.
Argumen Anatoly Yakovenko: Solana Lebih Desentralisasi
Yakovenko menyerang narasi bahwa Ethereum adalah blockchain paling desentralisasi. Ia membawa beberapa bukti kuat:
- Pertama, Solana memiliki jumlah validator aktif yang jauh lebih tinggi dibandingkan Ethereum. Lebih dari 2.000 validator independen beroperasi di jaringan Solana.
- Kedua, distribusi stake di Solana lebih merata. Tidak ada satu entitas pun yang menguasai lebih dari 33% stake – batas kritis untuk serangan 51%.
- Ketiga, Nakamoto Coefficient Solana lebih tinggi. Artinya, lebih banyak node yang harus dikompromikan untuk menguasai jaringan.
- Keempat, Solana mencapai TPS sangat tinggi (hingga 65.000 TPS secara teoritis) tanpa mengorbankan desentralisasi. Ini membuktikan bahwa skalabilitas dan desentralisasi bisa berjalan bersama.
“Kami memiliki lebih banyak validator independen, stake lebih terdistribusi, dan jaringan tetap hidup meskipun menghadapi tekanan besar. Itulah definisi desentralisasi yang sesungguhnya,” tegas Yakovenko.
Ia juga menyinggung beberapa masalah Ethereum, misalnya penundaan The Merge dan isu beacon chain. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa desentralisasi tinggi tidak selalu menjamin stabilitas jaringan.
Kritik dari Komunitas Ethereum dan Pengamat Independen
Kritikus tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan beberapa argumen kuat:
- Solana pernah mengalami outage berulang. Total waktu downtime mencapai ratusan jam sejak mainnet berjalan. Ethereum hampir tidak pernah mengalami hal serupa setelah The Merge.
- Validator Solana masih terkonsentrasi di beberapa penyedia cloud seperti AWS dan Hetzner. Jika penyedia ini down atau disensor, jaringan bisa lumpuh.
- Nakamoto Coefficient Solana sebenarnya rendah jika dihitung dengan benar. Banyak validator kecil tidak memiliki pengaruh signifikan.
- Governance Solana lebih terpusat. Keputusan upgrade sering datang dari Solana Labs dan validator besar, bukan dari komunitas luas seperti di Ethereum.
Para kritikus sering menyebut Solana sebagai “desentralisasi di teori, tetapi sentralisasi di praktik”.
Implikasi untuk Investor dan Pengguna
Debat ini bukan sekadar pertarungan ego atau fanboyisme. Ini menyangkut nilai inti blockchain:
- Jika Anda mengutamakan skalabilitas dan kecepatan (TPS tinggi, biaya transaksi murah), Solana terlihat lebih unggul.
- Jika Anda mengutamakan ketahanan terhadap sensor dan stabilitas jangka panjang, Ethereum masih menjadi tolok ukur utama.
Bagi investor di tahun 2026, ada beberapa poin penting:
- Solana bisa terus naik jika berhasil meningkatkan uptime dan distribusi validator.
- Ethereum tetap menjadi pilihan aman bagi institusi yang menghindari volatilitas dan outage.
- Kedua blockchain bisa hidup berdampingan. Desentralisasi bukan kompetisi zero-sum.
Debat ini juga mengingatkan kita bahwa desentralisasi bukan hal hitam-putih. Setiap blockchain memiliki trade-off. Solana memilih kecepatan dan biaya rendah dengan risiko outage. Ethereum memilih stabilitas dan ketahanan dengan biaya lebih tinggi serta skalabilitas melalui Layer 2.
Apakah Anda setuju dengan klaim Anatoly Yakovenko bahwa Solana lebih desentralisasi? Atau menurut Anda Ethereum tetap menjadi raja? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Debat ini sangat menentukan pilihan blockchain di masa depan!




