Halo Jakarta – Dominasi Bitcoin di pasar kripto mulai goyah. Analis senior dari beberapa lembaga ternama memperingatkan bahwa stablecoin kini menggerogoti pangsa pasar BTC secara signifikan. Pada 10 Februari 2026, market cap stablecoin sudah menyentuh hampir 10% dari total kapitalisasi kripto global—angka yang terus merangkak naik sementara dominasi BTC turun di bawah 50% untuk pertama kalinya sejak awal 2025. Apa yang membuat stablecoin begitu kuat, mengapa ini ancaman serius bagi Bitcoin, dan bagaimana investor harus menyikapinya? Berikut analisis lengkap, data terkini, alasan dominasi BTC tergerus, serta strategi bertahan di tengah pergeseran kekuatan ini.
Dominasi Bitcoin Terus Menurun – Data Terbaru Mengejutkan
Perkembangan market cap & dominasi BTC vs stablecoin (data 10 Februari 2026):
- Dominasi Bitcoin: 49,8% (turun dari puncak 58% di akhir 2025)
- Market cap stablecoin: USD 210–215 miliar (naik 35% dalam 6 bulan terakhir)
- Total stablecoin supply: USDT ~USD 115 miliar, USDC ~USD 55 miliar, DAI & FDUSD terus tumbuh
- Volume trading harian stablecoin sudah melebihi volume BTC di beberapa exchange besar
Analis Bloomberg Intelligence menyatakan: “Stablecoin bukan lagi sekadar alat tukar, tapi sudah menjadi aset dominan di ekosistem kripto.”
Mengapa Stablecoin Mengancam Dominasi Bitcoin?
Beberapa alasan utama yang membuat stablecoin semakin kuat:
- Utilitas nyata — Stablecoin digunakan untuk trading, remittance, DeFi yield farming, pembayaran lintas batas, dan bahkan gaji di beberapa negara
- Volatilitas rendah — Saat BTC & altcoin turun tajam, banyak trader pindah ke stablecoin untuk lindung nilai (safe haven sementara)
- Adopsi institusi & korporasi — Bank, fintech, dan perusahaan besar semakin integrasikan USDC/USDT dalam sistem pembayaran
- Yield farming & staking — Stablecoin memberikan yield 5–15% APY di berbagai protokol DeFi, jauh lebih menarik daripada hold BTC yang tidak menghasilkan
- Narasi “digital dollar” — Stablecoin dilihat sebagai jembatan antara fiat dan kripto, sementara BTC semakin diposisikan sebagai “store of value” saja
Hasilnya: aliran modal yang dulu masuk ke BTC kini banyak dialihkan ke stablecoin untuk utilitas harian.
Dampak ke Pasar Kripto & Investor Indonesia
- Volume trading BTC menurun relatif terhadap stablecoin di exchange besar
- Altcoin semakin bergantung pada stablecoin pair (USDT/USDC), bukan BTC pair
- Di Indonesia, volume USDT/USDC di Indodax & Tokocrypto melonjak 40–60% selama koreksi BTC
- Banyak trader ritel mulai hold stablecoin lebih lama karena takut volatilitas BTC
Analis CryptoQuant: “Dominasi stablecoin naik berarti aliran modal keluar dari aset spekulatif (BTC/altcoin) menuju aset stabil. Ini sinyal bearish jangka pendek tapi bullish jangka panjang untuk ekosistem kripto secara keseluruhan.”
Strategi Investor Menghadapi Pergeseran Dominasi Ini
Investor bisa ambil langkah bijak:
- Diversifikasi — jangan all-in BTC; alokasikan sebagian ke stablecoin untuk lindung nilai
- Manfaatkan yield farming — gunakan stablecoin di protokol DeFi untuk dapat passive income
- Pantau dominance chart — jika dominasi BTC terus turun di bawah 48%, pertimbangkan rotasi ke altcoin utility atau stablecoin yield
- Hold BTC jangka panjang — meski dominasi turun, narasi “digital gold” tetap kuat
- Gunakan DCA — beli BTC di dip sambil hold sebagian di stablecoin
Pergeseran ini menunjukkan pasar kripto semakin matang — tidak lagi hanya tentang BTC.
Dominasi Bitcoin Terancam Stablecoin – Era Baru Pasar Kripto Dimulai?
Peringatan analis bahwa dominasi Bitcoin tergerus stablecoin bukan sekadar isu teknis, melainkan perubahan besar dalam ekosistem kripto. Saat BTC & altcoin volatile, stablecoin justru jadi “raja” utilitas. Investor disarankan tetap waspada, diversifikasi, dan tidak terjebak narasi lama.
Dominasi Bitcoin terancam stablecoin—tren baru yang bikin pasar kripto bergidik!




