Harga Emas Cetak Rekor Bitcoin Bangkit Seberapa Lama Tren Dual Bull Bertahan

Harga Emas Cetak Rekor Bitcoin Bangkit

Halo Jakarta – Harga emas dunia kembali mencetak rekor baru pada 13 Januari 2026. Spot gold menyentuh level USD 2.945 per troy ounce, tertinggi sepanjang masa, didorong kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Di saat yang sama, Bitcoin berhasil rebound kuat dari level USD 93.000 ke USD 108.500 dalam waktu kurang dari dua minggu. Kedua aset safe haven dan aset berisiko ini bergerak naik bersamaan, menciptakan fenomena yang disebut “dual bull” atau bull market ganda. Tren ini membuat investor bertanya: seberapa lama fenomena ini bisa bertahan? Apa faktor pendorong, risiko yang mengintai, dan strategi terbaik menghadapinya? Berikut analisis mendalam.

Rekor Baru Harga Emas dan Penyebab Utamanya

Emas mulai menunjukkan kekuatan sejak akhir Desember 2025. Pada 31 Desember, harga masih di kisaran USD 2.780 per ounce. Namun sejak awal Januari, harga melonjak cepat karena beberapa faktor utama:

Bacaan Lainnya
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah serangan rudal Israel ke Lebanon
  • Data inflasi AS Desember 2025 yang lebih tinggi dari ekspektasi, tapi pasar tetap yakin The Fed akan potong suku bunga pada Maret 2026
  • Pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral China dan India yang terus menambah cadangan emas
  • Pelemahan dolar AS yang membuat emas semakin menarik bagi investor asing

Pada 13 Januari 2026, emas spot mencapai USD 2.945 per ounce, rekor baru yang mengalahkan rekor sebelumnya USD 2.900 pada Agustus 2025. Emas fisik di Indonesia juga ikut naik: harga emas Antam mencapai Rp 1.450.000 per gram, tertinggi sepanjang masa.

Bitcoin Bangkit Kembali Setelah Koreksi Akhir Tahun

Bitcoin mengalami koreksi tajam di akhir Desember 2025, turun dari puncak USD 126.000 ke level USD 93.000. Penyebab utama adalah profit taking institusi dan outflow ETF Bitcoin spot yang mencapai USD 2,1 miliar. Namun sejak 2 Januari 2026, Bitcoin mulai rebound kuat. Pada 13 Januari, harga berhasil menembus USD 108.500, naik lebih dari 16 persen dari titik terendah.

Faktor pendorong rebound Bitcoin:

  • Inflow ETF Bitcoin spot kembali masuk USD 450 juta dalam minggu pertama Januari
  • Pernyataan optimis dari JPMorgan bahwa aksi jual institusi sudah mencapai puncak
  • Sentimen positif dari kebijakan pro-kripto Donald Trump pasca-pelantikan
  • Efek halving April 2024 yang masih berpengaruh kuat pada suplai baru Bitcoin

Altcoin juga ikut bangkit. Ethereum naik ke USD 4.500, Solana ke USD 220, dan meme coin seperti Dogecoin melonjak 45 persen.

Apa Itu Tren Dual Bull dan Mengapa Terjadi?

Dual bull terjadi ketika aset safe haven (emas) dan aset berisiko tinggi (Bitcoin) sama-sama mengalami bull market secara bersamaan. Fenomena ini jarang terjadi karena biasanya investor memilih salah satu: aman (emas) atau agresif (kripto). Namun pada Januari 2026, keduanya bergerak naik bersamaan karena alasan berikut:

  • Kekhawatiran inflasi jangka panjang membuat emas menarik sebagai lindung nilai
  • Ekspektasi suku bunga rendah membuat aset berisiko seperti Bitcoin kembali diminati
  • Ketidakpastian geopolitik mendorong investor cari aset alternatif di luar dolar AS
  • Adopsi institusi yang semakin masif ke kripto, sementara bank sentral tetap beli emas

Tren ini menunjukkan perubahan paradigma: emas dan Bitcoin tidak lagi dilihat sebagai aset yang saling bertentangan, melainkan bisa saling melengkapi dalam portofolio modern.

Seberapa Lama Tren Dual Bull Ini Bisa Bertahan?

Analis memperkirakan tren dual bull ini bisa bertahan hingga pertengahan 2026, dengan beberapa skenario:

  • Skenario Optimis (berlangsung hingga Q3 2026): The Fed potong suku bunga 75 bps sepanjang tahun, geopolitik stabil, dan adopsi institusi terus meningkat. Emas bisa tembus USD 3.200, Bitcoin USD 150.000–180.000.
  • Skenario Moderat (berlangsung hingga Q2 2026): The Fed potong suku bunga 50 bps, geopolitik tetap tegang tapi tidak memburuk. Emas stabil di USD 2.800–3.000, Bitcoin USD 120.000–140.000.
  • Skenario Pesimis (berakhir cepat pada Q1 2026): Inflasi AS kembali naik, The Fed tunda potong suku bunga, dan terjadi risk-off besar. Emas tetap kuat, tapi Bitcoin bisa koreksi hingga 30–40 persen.

Mayoritas analis dari JPMorgan, Bloomberg, dan CryptoQuant memperkirakan skenario moderat: dual bull bertahan hingga pertengahan tahun sebelum kembali ke pola normal di mana emas dan Bitcoin bergerak berlawanan.

Strategi Investor Menghadapi Tren Dual Bull

Investor bisa manfaatkan tren ini dengan beberapa strategi:

  1. Alokasi Portofolio Seimbang – 10–15 persen emas fisik atau ETF emas, 5–10 persen Bitcoin/ETH, sisanya aset tradisional
  2. Dollar Cost Averaging (DCA) – Beli Bitcoin dan emas secara rutin setiap bulan untuk kurangi risiko volatilitas
  3. Hedging – Gunakan emas sebagai lindung nilai saat Bitcoin koreksi, dan sebaliknya
  4. Pantau Indikator Makro – Fokus pada data inflasi AS, kebijakan Fed, dan perkembangan geopolitik
  5. Hindari FOMO – Jangan beli di puncak euforia; tunggu koreksi kecil untuk akumulasi

Tren dual bull ini menawarkan peluang langka. Namun tetap ingat: kripto sangat volatil, emas lebih stabil tapi tetap berisiko.

Kesimpulan Tren Dual Bull Emas dan Bitcoin

Kenaikan bersamaan emas dan Bitcoin di awal 2026 menandakan perubahan besar di dunia investasi. Investor mulai melihat kedua aset ini sebagai pelengkap, bukan kompetitor. JPMorgan memperkirakan tren ini bisa bertahan hingga pertengahan tahun, sementara beberapa analis lebih optimis hingga akhir 2026.

Yang pasti, dual bull ini memberikan peluang besar bagi investor cerdas yang bisa alokasikan aset dengan bijak. Emas untuk stabilitas, Bitcoin untuk pertumbuhan eksponensial—kombinasi sempurna di era ketidakpastian global.

Pasar kripto dan emas sama-sama menunjukkan kekuatan. Tren dual bull ini mungkin baru permulaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *