Halo Jakarta – Pandji Pragiwaksono kembali jadi sorotan setelah stand-up comedy spesialnya Mens Rea tayang di awal Januari 2026. Dalam wawancara eksklusif dengan BeritaSatu Network pada 10 Januari 2026, Pandji buka-bukaan soal alasan ia sering bahas politik di panggung. Komika sekaligus aktivis ini bilang tujuannya sederhana: ingin rakyat lebih bijak memilih pemimpin. “Saya bukan politisi, tapi saya warga negara yang punya hak suara. Kalau saya bisa bikin orang mikir lewat tawa, kenapa tidak?” ujar Pandji. Materi politik di Mens Rea yang viral seperti sindiran nepotisme, korupsi, dan pasal karet KUHP jadi bukti komitmennya. Apa alasan mendalam Pandji, proses kreatifnya, respons publik, dan dampaknya ke masyarakat? Berikut ulasan lengkap.
Alasan Utama Pandji Sering Sentil Politik di Panggung
Pandji bilang politik bukan topik baru buatnya. Sejak album Mesinu 2011, ia sudah sering bahas isu sosial dan politik. Di Mens Rea, ia tambah tajam karena situasi politik Indonesia 2025-2026 makin panas. “Saya lihat rakyat sering terbelah karena politik identitas. Saya ingin orang ketawa dulu, lalu mikir,” katanya. Menurut Pandji, comedy punya kekuatan unik: bisa kritik tanpa terasa menggurui.
Ia juga sebut alasan pribadi. “Saya punya anak. Saya ingin mereka tumbuh di negara yang lebih baik. Kalau saya diam, berarti saya ikut masalah,” ujar Pandji. Ia tambah bahwa komika punya tanggung jawab sosial. “Kalau komika cuma bercanda soal kentut dan pacar, itu aman. Tapi kalau kita diam soal politik, kita ikut memperpanjang masalah.”
Proses Kreatif Pandji dalam Membuat Materi Politik
Pandji bilang materi politik butuh riset panjang. Ia baca berita setiap hari, ikuti sidang DPR, dan dengar podcast politik. “Saya kumpul data dulu, baru bikin punchline,” katanya. Ia juga konsultasi dengan lawyer dan aktivis untuk pastikan sindiran tak melanggar hukum. “Saya tak mau jadi korban pasal karet,” ujarnya sambil tertawa.
Pandji pakai gaya storytelling. Ia cerita pengalaman pribadi atau analogi sehari-hari. Contoh sindiran nepotisme: “Di Indonesia, kalau mau jadi presiden, syaratnya bukan visi misi, tapi punya bapak atau mertua yang pernah jadi presiden.” Ini langsung viral karena relatable dan tajam.
Respons Publik yang Campur Aduk
Mens Rea langsung trending di X dan TikTok. Klip sindiran nepotisme ditonton 8 juta kali. Banyak netizen puji keberanian Pandji. “Akhirnya ada komika yang berani bicara jujur,” tulis satu pengguna. Aktivis seperti Haris Azhar dan Rocky Gerung dukung penuh. “Pandji punya nyali besar,” kata Haris.
Tapi ada kritik dari buzzer dan pendukung pemerintah. Mereka sebut Pandji “provokator” dan “anti-pemerintah”. Beberapa akun anonim serang Pandji dengan label “pelawak yang kebanyakan baca berita”. Pandji balas santai di Instagram: “Terima kasih yang dukung dan yang kritik. Yang penting kita diskusi, bukan saling hujat.”
Dampak Mens Rea ke Kesadaran Politik Masyarakat
Show ini bikin banyak orang muda mulai diskusi politik. Grup WhatsApp dan Discord komunitas comedy politik bermunculan. Beberapa penonton bilang mereka baru sadar soal pasal karet KUHP setelah dengar sindiran Pandji. “Saya tadinya cuek, sekarang ikut petisi judicial review,” kata mahasiswa UI.
Mens Rea juga jadi bahan diskusi di kampus dan podcast. Banyak yang bilang comedy politik seperti ini perlu lebih banyak di Indonesia.
Pandji Pragiwaksono sebagai Komika Aktivis
Pandji bukan komika biasa. Ia lulusan Hubungan Internasional UI dan punya latar belakang aktivis. Ia pernah jadi timses Jokowi di 2014 dan 2019. Tapi setelah 2019, ia mulai kritis terhadap pemerintah. “Saya dukung orang, bukan partai atau sistem,” katanya.
Mens Rea jadi puncak kariernya. Ia bilang ini show paling personal karena bahas isu yang ia pedulikan. “Saya tak mau jadi komika yang cuma bikin orang ketawa. Saya ingin bikin orang ketawa sambil mikir,” tegasnya.
Harapan Pandji untuk Masa Depan Politik Indonesia
Pandji bilang ia ingin rakyat lebih bijak memilih pemimpin. “Jangan pilih karena suku, agama, atau janji manis. Pilih yang punya rekam jejak baik,” ujarnya. Ia juga harap generasi muda lebih aktif politik. “Jangan apatis. Suara kita penting,” tambah Pandji.
Mens Rea bukan cuma hiburan. Ini panggilan buat rakyat Indonesia agar lebih kritis dan bijak.
Pandji Pragiwaksono tunjukkan comedy bisa jadi alat perubahan. Ia buktikan tawa dan kritik bisa jalan bareng.




