Halo Jakarta – JPMorgan Chase baru saja rilis laporan optimis bahwa aksi jual besar-besaran di pasar kripto bakal segera berakhir. Analis bank raksasa AS ini soroti arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot yang mulai melambat drastis pada awal Januari 2026. Setelah outflow mencapai rekor USD 2,1 miliar di Desember 2025, inflow kembali muncul dengan USD 450 juta masuk minggu pertama Januari. JPMorgan yakin ini sinyal bottom sudah terbentuk dan rebound signifikan bakal datang. Bitcoin sudah naik ke USD 105.000, Ethereum ke USD 4.200. Apa dasar prediksi JPMorgan, data ETF, faktor pendukung, dan prospek market? Berikut analisis lengkap.
Latar Belakang Aksi Jual Besar Akhir Tahun 2025
Desember 2025 jadi bulan suram buat kripto. Bitcoin jatuh dari puncak USD 126.000 ke USD 93.000. Koreksi ini capai 26 persen, terparah sejak Mei 2022. Penyebab utama outflow ETF spot Bitcoin yang capai USD 2,1 miliar. BlackRock IBIT dan Fidelity FBTC alami penarikan dana besar dari investor institusi. Fear & Greed Index sempat di 20—extreme fear. Likuidasi leveraged capai USD 15 miliar, bikin harga semakin tertekan.
Tapi awal Januari 2026, semuanya berubah. Inflow kembali masuk USD 450 juta dalam 5 hari pertama. JPMorgan bilang ini tanda profit-taking selesai dan institusi mulai beli dip lagi.
Analisis JPMorgan Arus Keluar ETF Mulai Mereda
JPMorgan rilis laporan “Crypto Market Outlook 2026” pada 8 Januari 2026. Analis dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou bilang outflow ETF sudah capai puncak di Desember. Mereka prediksi inflow kembali kuat di Q1 2026. “Arus keluar ETF mereda drastis. Ini sinyal aksi jual institusi sudah habis,” tulis laporan itu. JPMorgan soroti BlackRock IBIT yang inflow USD 250 juta minggu ini setelah outflow USD 800 juta Desember.
Bank ini yakin Bitcoin bakal tembus USD 150.000 akhir 2026. Alasan utama: ETF spot makin matang, regulasi AS lebih ramah di era Trump kedua, dan adopsi institusi naik. JPMorgan juga bilang koreksi Desember cuma “healthy correction” setelah rally 2025.
Data ETF Bitcoin yang Tunjukkan Perubahan Tren
Data CoinShares konfirmasi prediksi JPMorgan. Outflow ETF Bitcoin global Desember 2025 capai USD 2,1 miliar. Tapi minggu pertama Januari, inflow USD 450 juta. BlackRock IBIT inflow USD 250 juta, Fidelity FBTC USD 150 juta, ARK 21Shares USD 50 juta. Grayscale GBTC yang dulu outflow besar mulai stabil.
Total aset ETF Bitcoin spot capai USD 120 miliar—naik 10 persen dari November. Ini bukti institusi tak kabur total, cuma ambil profit sementara.
Faktor Pendukung Rebound Market Kripto
Beberapa faktor dukung prediksi JPMorgan.
- Kebijakan Trump Pro-Kripto – Trump janji bikin AS “crypto capital dunia”. Ia kritik SEC era Biden dan dukung ETF lebih banyak.
- Fed Potong Suku Bunga – Peluang potong 25 bps Februari naik ke 85 persen setelah data tenaga kerja lemah.
- Halving Effect 2024 – Efek halving April 2024 masih kuat, suplai baru Bitcoin turun 50 persen.
- Adopsi Institusi – MicroStrategy tambah 10.000 BTC, Tesla aktif lagi beli.
Altcoin juga ikut hijau. Ethereum naik ke USD 4.200 karena upgrade Dencun selesai. Solana capai USD 220 dengan volume DeFi tinggi.
Sektor yang Paling Bergairah Saat Ini
Meme coin kembali gairah. Dogecoin naik 40 persen ke USD 0,40 berkat tweet Trump “Doge good”. Shiba Inu naik 35 persen, Pepe 50 persen. DeFi TVL capai USD 150 miliar—tertinggi sejak 2022.
Risiko yang Masih Mengintai
JPMorgan akui risiko tetap ada. Inflasi AS kalau naik lagi, Fed tunda potong suku bunga. Regulasi SEC bisa ketat kalau Trump gagal penuhi janji. Geopolitik seperti konflik Timur Tengah bisa picu risk-off.
Analis sarankan investor fokus long-term. Alokasikan 5-10 persen portofolio ke kripto, prioritaskan Bitcoin dan Ethereum.
Prospek Market Kripto 2026 Menurut JPMorgan
JPMorgan prediksi Bitcoin capai USD 150.000 akhir 2026. Ethereum USD 8.000 dengan staking naik. Total market cap kripto USD 5 triliun. ETF altcoin seperti Solana dan XRP mungkin disetujui. Meme coin tetap volatil tapi beri profit cepat.
Prediksi ini beri harapan setelah Desember suram. Inflow ETF mereda jadi sinyal kuat rebound.
Market kripto tunjukkan resiliensi. Aksi jual besar sudah lewat, gairah kembali.




