157 Orang Meninggal Tertimbun Sampah di Indonesia Sepanjang 2025

LONGSOR TPA BANTAR GEBANG

Halo Jakarta – Indonesia mencatat rekor tragis yang memilukan: 157 orang meninggal dunia akibat tertimbun sampah sepanjang tahun 2025. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan korban longsor sampah terbanyak di dunia, jauh melampaui negara lain yang juga bergulat dengan krisis pengelolaan sampah.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas korban adalah pemulung, warga sekitar TPA, dan anak-anak yang bermain di area pembuangan liar.

Bacaan Lainnya

Daftar Tragedi Mematikan yang Mengguncang 2025

Beberapa kejadian paling memilukan sepanjang tahun lalu:

  • Januari 2025 – TPA Bantar Gebang, Bekasi Longsor sampah menewaskan 18 pemulung dan 5 anak warga sekitar. Penyebab: tumpukan sampah melebihi kapasitas dan drainase buruk.
  • April 2025 – TPA Piyungan, Yogyakarta 22 orang tewas tertimbun setelah hujan deras memicu longsor. Korban mayoritas pemulung yang mencari nafkah di malam hari.
  • Juli 2025 – TPA Suwung, Denpasar 31 korban jiwa – rekor tertinggi dalam satu kejadian. Longsor terjadi saat malam hari dan menimpa pemukiman kumuh di bawah TPA.
  • Oktober 2025 – TPA Jatibarang, Semarang 14 orang tewas dan 29 luka-luka. Kejadian ini memicu demonstrasi besar warga menuntut penutupan TPA yang sudah overload.
  • Desember 2025 – TPA Batu Kumbang, Mataram 19 korban jiwa, mayoritas anak-anak yang bermain di area ilegal dekat TPA.

Total 157 korban jiwa ini tersebar di 19 provinsi, dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali menjadi penyumbang terbesar.

Penyebab Utama: Pengelolaan Sampah yang Kronik Buruk

Para pakar lingkungan menilai ada beberapa akar masalah yang berulang:

  • Overload TPA – Banyak TPA sudah melebihi kapasitas 200–300% dari desain awal.
  • Kurangnya TPA baru – Pembangunan TPA baru sering terhambat penolakan warga dan masalah lahan.
  • Budaya buang sampah sembarangan – Volume sampah nasional mencapai 175.000 ton/hari, tapi hanya 70% yang terkelola.
  • Pemulung & pemukiman liar – Ribuan orang hidup dan bekerja di sekitar TPA tanpa perlindungan keselamatan.
  • Minimnya daur ulang & pengolahan – Hanya 10–15% sampah yang berhasil didaur ulang secara formal.

Respons Pemerintah & Harapan Perubahan

Menteri LHK mengakui kondisi ini darurat nasional dan menyatakan akan mempercepat program:

  • Pembangunan 10 TPA modern baru berstandar sanitary landfill.
  • Program bank sampah nasional dan insentif daur ulang.
  • Relokasi pemukiman liar di sekitar TPA aktif.
  • Penegakan hukum tegas terhadap pembuangan liar.

Namun, banyak pihak menilai langkah ini masih terlalu lambat. “Kita sudah kehilangan 157 nyawa tahun lalu. Jika tidak ada perubahan radikal, angka ini akan terus naik,” kata aktivis lingkungan dari WALHI.

Indonesia sebagai negara penghasil sampah terbesar kedua di dunia harus segera bertindak. Tragedi tertimbun sampah bukan lagi bencana alam – ini bencana buatan manusia yang bisa dicegah.

Apakah pemerintah akan benar-benar serius menangani krisis sampah ini? Atau kita harus menunggu korban berikutnya? Bagikan pandangan dan solusi Anda di kolom komentar – nyawa rakyat kecil tergantung pada tindakan nyata sekarang juga.

Pos terkait